Imanku Lebih Mahal dari Hartaku

images (2)Selamat pagi menjelang siang sobat semua, untuk mengawali kegiatan baca-baca cerita dulu yuk sob, yah sekedar untuk menambah wawasan dan berbagi cerita untuk sesama. Dengan berbagi kita akan mendapatkan banyak manfaat sob, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, benar tho ? coba aja rasakan sob, hehehe. Apalagi berbagi cerita, setidaknya akan membuat kita jadi plong. Hehehe J

 

Cerita pagi ini lagi-lagi cerita tentang kehidupan yang Mas Mur alami dan rasakan sendiri. Bisa dikatakan sebagai cerita pribadi sih, tapi siapa tau aja ada sobat blogger yang mengalami kisah yang sama. Memangnya gimana sih ceritanya ? tentang apa gitu lho ?

 

Kisah ini bermula pada awal bulan November 2014, pada awal bulan itu Mas Mur memasukan lamaran kerja ke sebuah perusahaan aksesoris handphone yang berada di kota Yogyakarta. Nah kebetulan setelah melalui tahapan interview, Mas Mur mulai deh bekerja di perusahaan itu, sebagai SPB atau staff penjualan. Walau dibilang perusahaan tapi perusahaan itu lebih menyerupai sebuah Toko yang mempunyai beberapa cabang.

 

Seiring berjalannya waktu, Mas Mur sudah mendapatkan sebuah kenyamaan dalam bekerja, mulai dari mendapatkan teman-teman yang sangat baik dan ramah, dan suasa kerja yang nyaman. Namun susana hati Mas Mur mulai goyah dan merasa gundah ketika mendapat kabar dan informasi bahwasanya untuk menyambut datangnya Natal semua staff diwajibkan memberikan masukan berupa ide-ide kreatif untuk merayakan datangnya Natal di perusahaan tersebut. Dari sinilah muncul pertentangan-pertentangan dalam hati Mas Mur. Karena secara langsung maupun tidak langsung semua staff diminta dan diwajibkan untuk ikut merayakan Natal.

 

Disisi lain Mas Mur sudah mendapatkan kenyamanan dalam bekerja, namun disisi yang lainnya Mas Mur juga harus mempertahankan keimanan dan aqidah supaya tidak ternodai. Akhirnya diawal bulan Desember Mas Mur harus mengambil keputusan dalam mempertahankan kemurnian keimanan dan aqidah yang Mas Mur pegang selama ini. Namun sebelum mengambil keputusan dan tindakan Mas Mur terlebih dahulu berkonsultasi kepada Guru Besar Mas Mur yakni Ustad Irham, beliau adalah salah satu Guru Panutan yang Mas Mur teladani mulai dari waktu masih belajar di Ponpes Darul-Hikmah hingga saat ini J.

 

Melalui pesan di media jejaring sosial facebook Mas Mur ceritakan apa yang Mas Alami itu tadi, dan Ustad Irham hanya membalas dengan singkat padat dan jelas, berikut pesan yang disampaikan beliau kepada Mas Mur, “Kalau aku jadi dirimu, aku cari tempat kerja yang tidak sampai mempertaruhkan agamaku. Kecuali jika aku tidak ada pilihan lain alias darurat yang bener2 darurat, mau bagaimana lagi.” Nah itulah pesan yang disampaikan beliau kepada Mas Mur.  Dari pesan singkat yang beliau sampaikan sudah jelas dan Mas Mur sudah sangat paham, karena mau bagaimana pun kata-kata seorang guru adalah sebuah nasihat yang sangat baik dan harus diikuti oleh seorang murid/siswa terlebih oleh seorang santri. J

 

Supaya lebih mantap lagi dalam mengambil tindakan, ada beberapa referensi yang lain, yakni beberapa pendapat para ahli dalam menanggapi yang namanya toleransi beragama, dan berikut adalah hasil cuplikan dari beberapa sumber,

1.       Ibnu Taimiyah, ibnul Qoyyim, Syeikh Ibnu Baaz, dan Syeikh Ibnu Utsmaimin berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah Haram.

2.       Fatma MUI yang menyatakan

a.      Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

b.      Mengikuti upaca Natal bersama bagi umat islam hukumnya haram.

c.       Agar umat islam tidak terjerumus kepada subhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan perayaan Natal

Sumber www.eramuslim.com

 

Selain dari sumber yang dicantumkan di atas, sebenarnya hal serupa sudah pernah Mas Mur dapat materi pembahasannya ketika menjalani pendidikan di Pesantren. Selain itu karena kita juga harus mengamalkan ilmu yang sudah kita peroleh dan supaya tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dikatakan oleh dalam ayat berikut

 

“mereka tuli, bisu dan buta[27], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”, (QS. Al Baqarah : 18)

 

[27] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena tidak dapat menerima kebenaran.

 

Dalam ayat tersebut kita dianggap tuli, bisu dan buta jika kita tidak mengamalkan apa yang sudah kita peroleh, benar tho sob ? coba saja teman-teman kita atau siapapun jika melihat seseorang melanggar rambu lalu-lintas pasti jengkel tho, atau ada tulisan dilarang buang sampat di sini, tapi tetap saja ada orang yang membuang sampah di situ. Nah begitulah gambarannya sob.

 

Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka Mas Mur memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada tanggal 14 Desember 2014. Demi kemurnian dan keutuhan Iman dan Aqidahku aku rela meninggalkan gambaran rupiah yang ada diangan-angan dan kepalaku. Karena Mas Mur juga hanya manusia biasa yang tetap membutuhkan materi untuk bertahan hidup, namun bukan berarti harus mengorbankan Agama yang murni ini.

 

Untuk semua sahabatku, semoga bisa membuka mata hati dalam mensikapi hal yang terkadang dianggap sepele ini. Karena Mas Mur mengampil tindakan semacam ini saja banyak tetangga Mas Mur yang menyayangkan, dan menganggap hal seperti ini adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja. Namun hal yang dianggap sudah biasa ini justru menjadikan jalan yang bagus dan peluang yang besar untuk menggerogoti keimanan masyarakat Muslim itu sendiri.

 

Kepada sahabat-sahabat para Da’i dan Mubaligh, semoga cerita Mas Mur ini bisa menjadi penyemangat dalam berdakwah. Dan telah kita ketahui bahwa saudara-saudara kita masih banyak yang belum peduli dengan hal-hal yang demikian, sehingga tidak heran jika banyak dari saudara kita yang secara sadar atau tidak sadar terbawa oleh arus ini, bahkan banyak yang akhirnya ikut ke agama yang merayakan Natal ini.

 

Nah itulah cerita Mas Mur dipagi menjelang siang ini sob.

Semoga bermanfaat untuk sobat semua, dan untuk Mas Mur sendiri,