RINTIHAN HATIKU

GORESAN TERDALAM DI HATIKU

Ehm . . . di edisi kali ini penulis hanya ingin mencurahkan semua rasa di hati yang baru dia alami. Sebuah perasaan yang sangat sakit ketika ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi. Orang yang selama ini menemani hari-harinya, yang selalu tersenyum menyapanya. Namun entah mengapa orang yang ia saying berubah seratus delapan puluh derajat.

Semua yang Ia rasa ini, ingin penulis ceritakan kepada pembaca, karna, kepada siapa lagi penulis harus berbagi, orang yang senantiasa dia saying telah tidak memperdulikannya lagi. Ironis Memang. Jujur . . . penulis juga merasa bersalah kepada dia ( ehm, namanya “bunga” ), karna terlalu lancing mengungkapan perasaan saying, emang sih, pada awalnya bunga merespon dengan sangat sejuk. Dari sikapnya kepadanya, dia tau bahwa bunga juga mempunyai rasa yang sama. Walau kadang kala bunga juga sering menyampaikan jika dia menganggap penulis sebagai kakaknya. Karna bunga memang sangat menginginkan punya seorang kakak laki-laki.

Pada awalnya tidaklah ada masalah karna penulis juga hanya menganggap bunga sebagai adik, tapi waktu terus berjalan hingga beberapa bulan kemudian hubungan itu senantiasa berkembang, mungkin hanya penilaian penulis saja. Karna memang penulis yang merasa, sedang pesaraan bunga yang sesungguhnya siapa tau. Emang, banyak yang tidak senang dengan hubungan penulis dengan bunga, terutama teman-temannya, tidak perlu dijelaskan apa alasannya. Karna ini hanya ingin bercerita tentang hatinya penulis yang sedang terluka.

Penulis memanglah sangat saying kepada bunga, merasa nyaman ketika berada disampingnya, sehingga hamper setiap hari waktu penulis habiskan bersama bunga. Duduk berdua laksana sepasang kekasih, membelainya penuh kasih, hingga banyak yang beranggapan bahwa mereka pacaran, termasuk anggapan penulis sendiri. Dia merasa bahwa bunga benae-benar saying kepadanya.

Sejujurnya penulis tau, bunga sudah mempunyai pacar, yang mana penulis sadar bahwa pacarnya ini juga sangat saying sama bunga. Hubungan mereka sudah hamper 3 tahunan, dan berlangsung cukup baik walau kadang juga diselingi dengan putus nyambung. Hal ini penulis maklumi, siapa sih laki-laki yang tidak tertarik dengan gadis cantik ? Yang jelas pasti banyak yang suka. Bunga sering cerita tentang mantan-mantannya juga, tapi penulis tetap saja maju untuk senantiasa menyayanginya.

Hubungan penulis dengan bunga pun sama, sering diselingi dengan marahan dan lainnya. Penulis sadar bunga masih terlalu muda, jadi itu hal yang wajar. Dia sering menganggap orang-orang disekitarnya tidak saying kepadanya. Sering bilang penulis tidak pernah peduli kepadanya. Hal ini memang menyakitkan bagi penulis, tapi dia sadar mungkin bunga melakukan itu karna ingin diperhatikan, ingin senantiasa disayang, makanya penulis tidak pernah marah kepadanya. Penulis terlalu saying kepadanya.

Namun, kali ini penulis harus menerima kenyataan yang pahit, bahwasanya bunga telah kembali kepada pacarnya, yang kemarin dia bilang sudah putus. Sebenarnya penulis tidak masalah dengan hal itu. Namun yang membuat sakit hati penulis ialah, penulis dan bunga sepertinya tidak ada masalah, namun tiba tiba, bunga memberikan pesan singkat yang sungguh menyakitkan. Yang isinya meminta penulis untuk tidak lagi maen ke rumahnya. Supaya penulis tidak lagi mengganggunya. Sebenarnya apa sih salah penulis ? ketika ditanya bunga hanya menjawab, gak papa ug…sungguh menyakitkan memang. Penulis selalu berusaha untuk mencari kesalahannya sendiri kenapa bunga berbuat seperti itu kepadanya. Kenapa orang yang disayang tega melakukan hal itu. Tidakkah dia tau, betapa sakitnya hati penulis. Jujur penulis tidak akan pernah marah, walau tersakiti seperti ini. Mungkin benar penulis harus benar-benar pergi.

Semoga, ketika membaca goresan tinta ini bunga tau, betapa besar sayangnya penuli kepadanya. Penulis juga minta maaf dah terlanjur saying kepadamu. Penulis sekarang sudah sadar, kamu memang tidak bernah saying, kamu benar-benar hanya ingin mengubah sikapku yang dingin dan jutek. Penulis yakin, jika kamu memang saying sama penulis, kamu pasti akan menyadarinya. Tetapi kalau itu benar hanya untuk tujuan mengubah sikap penulis, Mas ucapin selamat karna bunga sudah berhasil. Tapi tak apalah, Mas rela, yang penting bunga senang, bias tersenyum, walau mas harus menahan kepedihan ini. Karna perasaan memang tidak bias dipaksa. Mas tidak bias memaksa Dedek untuk saying sama mas, karna mas tau dedek saying sma orang lain. Semoga dedek bahagia dengannya, dia yang sudah bertahun-tahun menemani dedek. Mas Cuma seorang pengganggu hubungan kalian. Semoga saja dedek bias mengerti.

Nah inilah sedikit kisah sedih penulis, yang tidak bias ditulis secara runtut, karna hati penulis sedang runtuh. Tetapi, biarlah ini berlalu. Penulis Cuma bias berdoa semoga semuanya baik-baik saja.