RENUNGAN UNTUK BANGSA

MANUSIA VS SEMUT


Berangkat dari sebuah film mahakarya HarunYahya yang berjudul Pesona Dunia Semut, dan sebuah ayat dalam Al-Qur’an “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu (QS Ath-Thaalaq : 12)” serta sebuah sabda rasulullah “khairun Nasi An fa’uhum lin nas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama manusia). Yang menyatakan betapa egoisnya diri manusia dan betapa salutnya kerjasama sesame semut.

Jika kita mengamati kehidupan dunia semut maka kita akan menemukan sebuah pelajaran yang amatlah sangat besar bagi kehidupan manusia. Mungkin kita juga akan merasa iri kepada mereka, karena melihat kekompakan dan pengorbanan diri terhadap kelompoknya. Mereka rela mengorbankan dirinya demi kemajuan bersama. Coba kita perhatikan makhluk kecil ini. Betapa mereka sangat kompak dalam bekerjasama. Mereka dapat membagi tugas dengan baik, bahkan diantara mereka tidak ada yang namanya jenjang kepangkatan, tidak ada yang namanya bos dan tidak ada yang namanya anak buah, semua bekerja sama dengan salut dan baik. Ada semut pekerja yang tugasnya mencari dedaunan untuk bahan dasar bercocok tanam. Mereka mencari dan mengumpulkan dedaunan bukan untuk dimakan, melainkan digunakan untuk bahan dasar bercocok tanam.

Semut pekerja akan didamping semut prajurit kecil yang senantiasa ikut bertengger diatas daun yang dibawa oleh semut pekerja. Mungkin kita bertanya, mengapa teman-temannya membawa daun kok malah enak-enakan ditasnya. Ternyata meraka yang bertengger ini adalah semut prajurit yang bertugas melindungi semut pekerja dari serangan tawon yang mungkin dating mennyerang.

Setelah sampai kedalam sarang dan masuk keladang pertanian semut pekerja menyerahkan dedaunan yang mereka bawa kepada semut penyeleksi yang bertugas membersihkan bakteri yang mungkin ada dalam daun. Kemudian semut ini akan menyerahkan kepada semut petani yang lebih kecil, yang bertugas mengunyah dedaunyan menjadi bubur daun yang kemudian digunakan untuk bahan dasar atau media penanaman jamur. Selama 24 jamur putiha akan tumbuh dan siap panen. Semut-semut ini akan memanennya dan menyerahkan kepada semua warganya. Mereka tigak mementingkan diri mereka sendiri. Tetapi mereka bersama-sama mampu membagi makanan dan tugas dengan baik, sehingga tidak ada semut yang kelaparan. Betapa makhluk sekecil ini dapat membagi tugas dan bekerjasama begitu baiknya.

Sekarang coba kita tengok diri kita, yang dikatakan sebagai makhluk paling sempurnya, makhluk yang memiliki akal pikiran, mangapa justru tidak dapat melihat ayat-ayat Allah yang ada di alam ini. Mengapa justru kebanyakan manusia hanya memikirkan perutnya sendiri ? Sehingga jika kita lihat banyak anak-anak terlantar, orang-orang tunawisma, kemiskinan, kelaparan dan lain sebagainya menimpa saudara-saudara kita. Jika kita belajar dari cara hidup semut pastilah tidak ada yang namanya kemiskinan dan kelaparan. Karena semua manusia bekerjasama dalam membangun peradaban dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Sehingga sabda rasulullah yang tertera diatas berlaku bagi kehidupan manusia sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak member manfaat bagi sesame mannusia sebagaimana kisah semut itu tadi yang saling memberi manfaat dan saling melindungi.

Semoga kita senantiasa menjadi makhluk yang selalu dapat mengambil hikmah dari Ayat-ayat yang Allah perlihatkan kepada manusia di alam semesta ini.