Tentang Sukses

LAGI – LAGI HARUS SUKSES

oleh muryanto sama



Kenapa sih ya . . . semua orang pasti akan mengatakan “Aku ingin menjadi orang yang sukes”, Tyus tau ga sih apa yang dimaksud dengan sukses ? Nah maka dari situlah maka penulis yang gaul ini pengin ngajak penbaca melihat kembali arti sukses menurut Al-Qur’an dan tentunya hanya akan pembaca dapatkan di blog ini, lha wong artikel ini juga artikel khusus. Kenapa khusus . . . ? itu mungkin yang timbul dalam benak pembaca. Jawabannya sangatlah simpel, karena yang mengulas kan Cuma ane doang . . . hehehe . . . just kidding not jus aple.

Sebelum mengupas ayat tersebut mari kita lihat terlebih dahulu kata-kata bijak seorang yang ane lupa namanya “Kesuksesan berasal dari keterpurukan yang paling dasar”. Lho kok bisa ?
Jika kita melihat dan memperhatikan sejarah perkembangan bangsa-bangsa yang sekarang notebennya dikatakan sebagai Negara yang sedang maju, maka kita akan menemukan kebenaran dari kalimat tersebut. Hampir semua bangsa yang telah meju saat ini, dahulunya pasti persnah mangalami yang namanya keterpurukan. Tinggal bagaimana cara bangsa itu mensikapi keadaan tersebut.

Bangsa yang cardas adalah bangsa yang dapat mengambil pelajaran dari apa – apa atau kejadian-kejadian yang menimpanya. Dengan mempelajari kejadian-kejadian itu maka ia akan mengampil tindakan yang tepat untuk mengatasinya. Jadi bangsa yang cerdas tidak akan mudah terlenakan oleh suatu kejadian yang menimpanya.
Nah itu jika mengamati kata-kata bijak tersebut.

Kemudian adalagi, kalau itu tadi dari orang luar, nah sekarang penulis sampaikan juga pesan yang pernah penulis dapatkan ketika mengikuti sebuah pengajian. Yang mana dalam pengajian itu sebagai pembicara Ust. KH. M. Fathul Hilal dari Sleman, yang kebetulan dahulu beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Darul-Hikmah Pakem. Beliau menyampaiakan sebuah rumus untuk menjadi orang sukses. Adapun rumus yang beliau sampaikan adalah sebagai berikut;
“Al Adabu Assasunnajahah” Tata krama / sopan santun itu adalah landasan kesuksesan. Yang mana dalam hal ini dibahas tentang tata karma terhadap kedua orang tua. Kepada orang tua hendaknya kita:
1. Berbicara dengan sopan,
2. Menghaturkan sesuatu yang menyenangkan,
3. Khitmat / melayaninya dengan baik,
4. Ri’ayah / merawatnya,
5. Mendo’akan kebaikan.
Nah kelimanya harus kita lakukan, jika kita ingin menjadi orang yang sukses.
Jika kita memperhatikan poin per poin kita akan menemukan kebenaran dari pesan Beliau. 1) Berbica yang sopan, bukankah kita memang diperintahkan untuk menjaga lisan ingat kata Rasulullah “Aktsaru Khathayabni Adama Min Lisanihi” Kesalahan manusia yang paling banyak adalah karena lisannya. Banyak pertikaian / pertumpahan darah hanya dikarenakan oleh kesalahan lisan belaka. 2) Menghaturkan sesuatu yang menyenangkan, bukannya dahulu diwatku kita masih kecil kita sering meminta sesuatu kepada orang tua kita, nah sekarang apa yang bisa kita berikan kepada beliau sebagai ganti, walaupun semua itu tidak akan sanggup menggantikannya. Paling tidak kita memberikan sesuatu apa entah itu benda ataupun bukan yang penting semuanya dapat menyenangkan hati beliau. 3) Khitmat / melayaninya dengan baik, hal ini sebagai bukti kecintaan kita kepada kedua orang tua kita yang telah mendidik dan membesarkan kita, bukannya kita dulu juga sudah dilayaninya dengan baik pula dikala masih kecil. 4) Ri’ayah Merawatnya dikala keduanya telah senja atau tua, kalau bukan kita yang merawat lalu siapa lagi, bukankan sebaik-baik orang adalah orang yang mampu mewarat kedua orang tuanya sebagaimana keduanya dahulu merawat kita dengan penuh cinta kasih. 5) Mendo’akan kebaikan, Hal ini dilakukan baik orang tua kita masih hidup ataupun telah tiada, bukankah anak yang sholeh adalah anak yang selalu mendo’akan kebaikan untuk kedua orang tua.

Nah kelima hal itu jika kita lakukan maka kita akan mendapatkan kemuliaan / kesuksesan di dunia dan di akhirat. Insyaallah . . . Amiin.

Menurut Al-Quran surat Faathir ayat 10 :
   •   •                     
10. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya[1250]. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.

Catatan :
[1249] Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa Perkataan yang baik itu ialah kalimat tauhid Yaitu laa ilaa ha illallaah; dan ada pula yang mengatakan zikir kepada Allah dan ada pula yang mengatakan semua Perkataan yang baik yang diucapkan karena Allah.
[1250] Maksudnya ialah bahwa Perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala.

Menurut Ayat tersebut kunci sukses ada 3 poin;
1. Memanjatkan kalimat-kalimat Thoybah kepada Allah,
2. Beramal sholih dan beraktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain,
3. Berdo’a
Kesemuanya itu berintikan perintah untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan bertakwa kita akan diberikan kemuliaan disisi Allah. “Inna Akramakum ‘indaallahi Atqakum” Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa.
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang – orang yang taqwa, sehingga kita dapat mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Amiin.