SUKSES SEJATI

KESUKSESAN YANG HAKIKI

Suatu hal yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang, yakni mencapai kesuksessan yang sebenar-benarnya. Halah . . . uangela cah le arep nerangke. Sukses adalah suatu titik atau puncak kejayaan sebuah prestasi. Orang akan dikatakan sukses apabila telah melewati beberapa fase, diantaranya adalah kekayaan. Memang di dunia ini tidak akan dapat bertahan hidup tanpa adanya harta yang mencukupi, apalagi di Zaman yang serba ekonomis ini. Semuanya akan dinilai dengan uang. Pokoknya derajat seseorang akan dikatakan mulia apabila mempunyai banyak harta.

Hal ini menjadikan penulis agak sedikit bergejolak, hehehe bahasanya agak tinggi coy . . . ga papa lanjut aja  Mengapa hal ini bisa terjadi, yak arena penulis sendiri termasuk orang yang dikatakan sebagai anak yang “kurang beruntung” jika diukur dari segi yang ini. Why . . . ? Karena penulis dilahirkan disebuah keluarga yang taraf ekonominya bisa dikatakan menengah kebawah . . .halah nggaya tenan bahasane bilang aja orang tidak punya. Panulis (sekilas tentang penulis boleh dunk ) seorang anak yang dilahirkan oleh seorang Ibu “jelas dunk masak bapak yang nglahirin” yang mana ketika penulis berusia 2 tahun ditinggal oleh Bapaknya pergi entah kemana. Bahkan sampai sekarang pun penulis belum tahu tentang kabar keberadaan Bapaknya. Ya moga aja Allah menunjukkannya kejalan yang lurus (Amien). Penulis dibesarkan dididik oleh Ibunya hingga sekarang akhirnya menyelesaikan pendidikan SMAnya di PP Darul-Hikmah Pakem, dan insyaallah jika Allah mengijinkan dan memberikan jalannya penulis ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Walau kemungkinan sangat kecil tapi katanya man jada wa jada, where is a wont there is away, (nggaya sitiknek salah gari nyorek ). Makanya do’ain coy. Agak dramatis dikit ga papa. Tapi ada untungnya juga lho ….. apa coba . . . ?pikir aja ndiri . . . ! malah akon . Maka dari itulah timbul pemikiran-pemikiran yang agak nyleneh pada diri penulis. Bukannya gara-gara masalah penulis tergolong orang yang ga punya lho. But dari benyak sumber dan informasi dari para da’I di pengajian dan pada saat ceramah jum’at (makane nek jum’atan ora mung turu neng dirungoke  )nah ini dia hasilnya, Kesuksesan tidaklah dinilai dari banyaknya harta yang dimiliki. Whoy keren . . . trus apa dunk . . .! dibaca baik baik ya . . .
1. Orang bisa dikatakan sukses apabila semakin tambah keikhlasannya ketika amal-amal yang dilakukan bertambah, dengan kata lain semakin banyak beramal semakin ikhlas pula dia.
2. Orang dikatakan sukses apabila semakin bertambah kesabarannya ketika ujian menimpanya, dengan kata lain semakin diuji semakin sabar.
3. Orang dikatakan sukses apabila semakin tambah rasa syukurnya kepada Allah ketika diberi nikmat, dengan kata lain semakin ditambah kenikmatannya semakin tambah pula rasa syukurnya.
Ga sulit tho . . . hehe . . . banyak bukti tentang hal itu . . . ternyata ketika orang mempraktekkannya dia merasa lebih tentram. Karena ternyata orang-orang yang bergelimpangan harta itu belum tentu merasakan nyaman dan tentram. Kaya bukan berarti sejahtera. Mau diakui atau tidak jika kita mau jujur pada diri kita seperti itulah adanya.

Jika hal ini dapat dilaksanakan oleh semua orang, maka insyaallah tidak aka nada yang namanya korupsi jelas, perampokan, atau criminal-kriminal lain. Wes tho percoyo ae kok susah hehehe . Nah itu aja pesan hari ini moga bermanfaat dan dapat dilaksanakan hehehe . . . penulis mau lanjutin tugas dulu baru sibuk buanget jew . . , biasa . . . bersih-bersih . . .piring . . . . Undur ma qala wa la tandur man qala . . .
Salah benerke dewe . . .biasa wong jugul cubluk ambalilu kothong ing seserepan miwah asor ing samukawis . . .