PROFIL PONPES DARUL HIKMAH PAKEM

PPROFIL PONDOK PESANTREN
DARUL HIKMAH
YOGYAKARTA

1. Nama : Pondok Pesantren Darul Hikmah
2. Desa : Purwobinangun
3. Kecamatan : Pakem
4. Kabupaten : Sleman
5. Propinsi : D.I.Yogyakarta
6. Didirikan : Tahun 1996
7. Ijin Pendirian :
a. Tanggal : 16 Desember 1999
b. Nomor : E. 99126
c. Instansi : Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi D.I.Yogyakarta
8. Yayasan : Darul Hikmah Al Ihsaniyah
9. Alamat : Jln. Palagan Tentara Pelajar Km.15, Sembung, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta 55582
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dalam rentang sejarahnya yang begitu panjang, pesantren telah banyak memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia. Dari pesantren telah muncul para ilmuwan yang mumpuni dengan tingkat intelektualitas dan emosionalitas yang unggul.
Hal ini dimungkinkan karena sistem pendidikan yang dikembangkan di pesantren menyentuh tiga ranah (domain), merupakan sasaran dari kegiatan belajar mengajar. Pesantren tidak hanya membekali santri dengan kemampuan kognitif yang mantap, tapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Dengan demikian output pesantren memiliki keunggulan tersendiri disbanding output yang dihasilkan oleh system pendidikan lain. Pesantren menjadikan santri sebagai pribadi yang utuh dan mantap sehingga mampu bersaing dan memecahkan permasalahan hidup di masyarakat.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi pengembangan pendidikan pada diri manusia yaitu factor keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan. Factor keluarga merupakan masa paling awal dalam membina anak sehingga pendidikan anak dapat dibentuk dengan mudah disebabkan pada masa ini anak-anak cukup dengan melihat dan melatih kebiasaan yang baik sehingga tertanam dasar-dasar pendidikan (Zainuddin, dkk, 1991 : 106) dan hal ini tergantung pada keberhasilan dalam pembinaan keluarganya.
Begitu pula faktor lingkungan, sangatlah berpengaruh pada masa pembinaan tersebut, yaitu di saat anak-anak bergaul di lingkungan luar rumahnya. Pergaulan di lingkungan luar rumah (masyarakat) menjadi sangat penting diperhatikan karena pada masa tersebut banyak waktu luang yang dipergunakan untuk bermain dengan usia sebayanya di keluarga dan lingkungannya.
Menjadi tugas yang cukup berat bagi lembaga pendidikan ketika anak-anak diserahterimakan oleh orang tuanya. Orang tua anak (siswa) menaruh harapan sangat besar agar anaknya menjadi lebih baik, menjadi anak yang cerdas dan berkepribadian (berakhlak) yang utuh serta baik, yang dijiwai nilai-nilai keagamaan dan keimanan yang tangguh (Zakiyah Daradjat, 1982 : 10).
Pondok Pesantren Darul Hikmah sebagai salah satu pesantren yang ada di Indonesia juga dituntut untuk lebih antisipatif, progresif, dan dinamis dalam setiap perubahan besar yang melanda umat manusia juga menimpa dunia pendidikan. Dalam kaitan ini terlihat jelas bahwa posisi pesantren menjadi sangat sentral dan strategis dalam menyikapi dan mewarnai kecenderungan perubahan besar tersebut karena pesantren telah teruji sebagai lembaga pendidikan yang memiliki resistensi yang baik dalam menghadapi arus perubahan pada setiap jaman.
Berkaitan dengan arus besar perubahan yang mengglobal tersebut maka Pondok Pesantren Darul Hikmah perlu memperhatikan, sekurang-kurangnya sepuluh masalah strategis, yaitu :
1. penanaman aqidah yang benar di kalangan umat sehingga tercipta suatu tatanan masyarakat yang mawahhid,
2. pemasyarakatan ibadah yang referensial sehingga tercipta suatu tatanan masyarakat yang mustaqim,
3. pengalaman muamalah yang harmonis dan dinamis sehingga terkondisi suatu tatanan masyarakat yang hanif,
4. intensifikasi pembinaan umat yang berada di sekitar dan yang jauh dari pondok sehingga tercipta suatu tatanan qaryah thayyibah (Desa Sakinah),
5. peningkatan kepedulian terhadap kaum dhuafa sehingga pondok dapat mengangkat mereka dari lembah kemiskinan dan keterbelakangan,
6. menggalakkan semangat gotong-royong di kalangan santri dan masyarakat sehingga tercipta suatu masyarakat yang saling menolong, saling mencintai, dan saling menghormati,
7. pengembangan institusi-institusi keilmuan secara professional,
8. peningkatan wawasan akademik dewan guru,
9. seleksi masuk anak-anak potensial (bibit-bibit unggul) untuk dididik dan digembleng menjadi pemimpin, dan
10. pengkondisian keilmuan yang kondusif sehingga tercipta budaya kepakaran yang produktif.