Renungan Syawwalan

TIGA PENYELAMAT MANUSIA

Oleh : Abu Alifa


Ada tiga perkara yang akan menyelamatkan manusia, yaitu; takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, berbuat adil dalam keadaan ridho ataupun marah, hidup sederhana dalam keadaan fakir maupun kaya”

(HR. Tabrani dari Anas)


Setelah kita mengakhiri aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, maka nabi menuntunkan kepada kita untuk saling mendo’akan agar Allah menerima seluruh amal ibadah kita, menjadikan kita kembali kepada fitrah dan memperoleh kemenangan / keselamatan yang sebenarnya.


Bagaikan lautan, kehidupan ini selalu mengalami pasang surut. Kejayaan, kemuliaan dan prestasi seseorang, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa tak menutup kemungkinan mengalami masa surut ke titik terendah, bahkan tak jarang prestasi tersebut menemui kehancuran, hilang tak berbekas.


Kita sering melihat satu keluarga tak kaya raya, sukses secara ekonomi; punya rumah besar dan bertingkat, mobil mewah dan segalanya terpenuhi, sukses secara social politik, punya pemerintahan, tetapi ketika memasuki masa selanjutnya ia tak mampu meneruskan kejayaan keluarga tersebut dengan tetap menjaga (survive) prestasi puncaknya untuk generasi penerusnya.


Sering kita lihat anak-anaknya malah hidup dengan “ajian mumpung”, hidup foya-foya, boros bahkan mabuk-mabukan dan mengkonsumsi narkoba, sehingga suatu saat baru sadar bahwa kejayaan yang diperolehnya telah tiada, hilang tinggal kenangan semata. Rasulullah saw tentunya tak menghendaki hal tersebut terjadi pada umatnya. Diharapkan umat manusia mempu menjaga dan mempertahankan kemuliaan dan keunggulan dibidangnya masing-masing. Karena pada hakekatnya “survive” (mempertahankan hidup) adalah naluri dan fitrah manusia. Tidak ada satu manusiapun yang hidup di dunia ini merasa senang apabila kejayaannya menjadi surut, menurun, hancur,, atau hilang tak tersisa, sebaliknya ia akan selalu berusahaagar kemuliaannya tersebut bertahan sampai masa anak-anak, cucu dan generasi penerusnya.


Dalam hadits diatas Rasulullah saw memberikan petunjuk kepada kita agar dapat menyelamatkan diri dari kehancuran, yaitu pertama; takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, kedua; berlaku adil baik pada waktu rela maupun marah, ketiga; hidup sederhana pada waktu fakir maupun kaya.


Takut kepada Allah swt


Rasa takut kepada Allah merupakan suatu yang sangat penting dalam kehidupan ini, karena dengan sifat ini kita menjadi tidak berani melanggar ketentuan Allah, tetapi sebaliknya akan mentaati perintah Allah dan menjauhi segala larangan_Nya.


Rasa takut pada Allah bukan berarti lalu kita menjauh dari_Nya, tetapi takut pada Allah adalah takut pada siksa, adzab dan murka_Nya yang membuat kita harus meninggalkan sega perbuatan yang mendatangkan kemurkaan_Nya.


Rasa takut ini harus ditunjukkan dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan kapanpun juga, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Rasa inilah yang membuat kita harus dekat pada Allah (taqarrub ila Allah) bukan malah menjauhi_Nya.


Orang yang taat aturan hukum karena ada polisi sebenarnya orang tersebut tidaklah takut pada Allah, karena suatu saat ia akan berani melanggar hukum tersebut ketika tidak ada polisi. Orang yang takut kepada Allah tidak akan pernah melanggar hukum meski tidak ada polisi / penegak hukum dan ataupun orang lain. Dengan demikian tidak akan ada korupsi, pencurian, perkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya.


Seseorang yang mempunyai rasa takut pada Allah inilah yang mudah menerima peringatan sehingga dapat merubah pola hidupnya yang salah. Firman Allah dalam surat Fatir ayat 18 menyebutkan;

Sesungguhnya yang dapat diberi peringatan adalah orang yang takut pada siksa Tuhanya meskipun tidak kelihatan. Mereka mendirikan sholat dan barang siapa mensucikan dirinya untuk kebaikan dirinya, dan kepada Allah-lah tempat kembali”


Berlaku Adil


Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lawan katanya adalah dholim. Janganlah sampai seseorang berlaku adil kepada seseorang yang disenanginya saja, dengan memberikan kemudahan, sedangkan kesalahannya ditutupi atau malah tak diberikan sanksi yang semestinya, walaupun kesalahannya besar. Sementara orang yang tak disukainya jangankan diberi kemudahan, kesalahan sekecil apapun akan diberi hukuman berat hingga melebihi batas.


Perintah Allah untuk berbuat adil tersebut ditulis dalam Firman_Nya;


Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan ihsan, memberikan kepada kerabat, mencegah berbuat keji dan mungkar serta permusuhan. Ia (Allah) mengajari kamu sekalian agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An-Nahl; 16 : 90)


Seorang muslim jangan sampai bingung terhadap masalah keadilan karena adil adalah berpihak kepada kebenaran dan tidak berat sebelah terhadap kelompok tertentu. Rasul sendiri memberikan contoh; Beliau akan memotong tangan Fatimah putrinya, bila ia mencuri. Hal ini adalah cermin keadilan, sehingga jangankan orang lain, anak sendiri saja kalau memang bersalah pasti akan dihukum; jangan sampai mentang-mentang berkuasa kemudian bertindak dan menerapkan hukum seenaknya, seseorang yang bersalah tapi orang lain yang dituntut menanggungnya.


Kesederhanaan


Hidup sederhana adalah salah satu faktor penyelamat kahidupan kita. Sederhana juga bias mendatangkan kabahagiaan tersendiri bagi kita, karena pada dasarnya yang menyiksa di dunia ini adalah munculnya “keinginan dan nafsu” yang terlampau tinggi dengan tidak melihat kenyataan yang ada pada diri kita. Hal tersebut bukan berarti islam melarang manusia memenuhi keinginannya, tetapi hendaknya ia menyesuaikan dengan realitas kondisinya. Bukankah orang yang selalu memenuhi keinginannya menjadikannya semakin rakus dan tidak peduli dengan sesama. Dalam islam keinginan tersebut harus dilembagakan dan dikendalikan dalam aturan yang baik, jelas dan tegas.


Keinginan yang memuncak secara psikologis berbeda dengan cita-cita, karena cita-cita membuat menusia menjadi dinamis mewujudkan idenya dengan program yang mapan, teratur dan sistematis. Hidup tanpa cita-cita adalah semu dan tak bergairah, sedangkan keinginan yang memburu cenderung menjadikan nafsu menjadi teramat sulit untuk dikendalikan.


Mungkin dibenak kita bertanya, mengapa Rasulullah saw memerintahkan hidup sederhana baik waktu fakir maupun kaya. Diwaktu kaya mungkin pantas orang dianjurkan hidup sederhana, tetapi mengapa sederhana perlu di waktu fakir dan miskin ? Hidup sederhana di waktu kaya sangat dianjurkan supaya harta bendanya tidak dipergunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Juga kesederhanaan orang kaya tidak akan memancing kecemburuan sosial. Prampokan, pencurian, penjarahan, bukan semata-mata disebabkan olah kejahatan si pelaku, tetapi bisa jadi bermula dari kecemburuan sosial yang disebabkan karena tidak bias berprilaku sederhana.


Hidup sederhana diwaktu ekonominya pas-pasan, fakir, dan miskin sangat diperlukan juga agar apa yang dimiliki oleh orang kaya tidak menjadi ambisi yang berlebihan bagi si miskin. Kita pun tidak perlu berpenampilan seperti orang kaya kalau memang tidak mampu. Ketidak mampuan untuk hidup sederhana seperti inilah yang membuat seseorang pembantu harus berani mencuri uang majikannya demi memenuhi keinginannya untuk memiliki handphone, gelang emas, pakaian, dan sepatu agar kelihatan kaya dikampung halamannya.


Keengganan seseorang untuk tetap berlaku hidup sederhana itulah yang mendorong manusia “memaksakan dirinya” berhutang kesana kemari untuk keperluan yang tidak jelas dan tanpa kalkulasi sesuai dengan kemampuan dirinya.


Hutang-hutang tersebutlah yang membelenggu manusia. Kita juga dapat belajar dari bangsa kita yang terlalu berani berhutang sehingga mengalami puncak krisis yang berkepanjangan.


Hidup yang selalu boros dilarang islam, Firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 26 – 27 mnebutkan


Tunaikanlah hak-hak saudara dekat (tetangga), kaum miskin dan ibnu sabil, dan janganlah kamu suka berlaku boros dengan menghambur-hamburkan harta. Sesungguhnya orang yang boros adalah saudara syetan dan syetan itu kufur pada Tuhannya”


Akhirnya Bulan Ramadhan adalah bulan pendadaran bagi kita untuk senantiasa menempa diri menjadi manusia yang mampu benar-benar takut kepada Allah daik dalam keadaan terbuka ataupun tersembunyi, sehingga mampu berbuat adil dan berprilaku sederhana dalam segala keadaan dan kesempatan.


Ketiga hal tersebut dapat kita jadikan parameter bagi diri kita dalam memaknai Ramadhan tahun ini.


Takut kepada Allah harus ditindaklanjuti dengan mendekatkan diri kepada_Nya, ketiaka kita menjadi lebih takut kepada Allah, maka kemudian kita akan semakin mendekatkan diri kepada_Nya. Diantara wujud pendekatan diri kita kepada Allah ialah berlaku adil dan keadilan itu diantaranya tercermin dari perilaku sederhana.


Apabila ketiga sifat tersebut mampu kita wujudkan maka hal itu menjadi tanda bahwa kita termasuk orang yang memperoleh maghfirah dan rahmatnya.