KONSEKWENSI BERTAQWA

Oleh : R. Agung Nugraha, M.A


Dan bersegeralah kamu kepada ampunandari Tuhan kamu dan surga yang luasnya (seukuran) langit dan bumi, disiapkan bagi orang-orang yang muttaqin”

(QS. Ali Imron : 32)


Tujuan utama disyariatkan Puasa di bulan Ramadhan ialah agar kita semua menjadi orang yang bertakwa. Berikut beberapa catatan penting terkait dengan idealitas kita agar menjadi insane muttaqin.


Insan muttaqin secara harfiyah dapat diartikan sebagai manusia yang bertakwa. Namun dari segi istilah, insan muttaqin sesungguhnya lebih dari sekedar “orang yang bertaqwa”, lebih dari itu, insane muttaqin adalah orang yang telah mencapai tingkat takwa yang permanent, kokoh, mantap, dan tak tergoyahkan oleh godaan apapun. TAkwa yang telah dicapai oleh orang-orang muttaqin menyerupai mata air yang terus-menerus mengalirkan kebaikan yang akan menyuburkan hati dan jiwa masyarakat sekelilingnya.


Kaum muttaqin senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya, sehingga segala tindak-tanduknya senantiasa terkontrol oleh kendali takwa. Maka ketika saudara, keluarga, tetangga, atau siapapun berinteraksi dengan dia, baik dalam hubungan bisnis, kegiatan social, olah raga, maupun hiburan, akan turur meraskan atau paling tidak merasakan sinyal-sinyal kehadiran Tuhan. Demikian besar kebaikan dan keindahan yang terpancar dari sifat takwa ini, sehingga Allah menjanjikan kenikmatan dan kebahagian abadi bagi orang-orang muttaqin.


Takwa juga merupakan variable utama yang menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah, bukan harta, kedudukan, pangkat, atau keturunan.


Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa.”


Dalam ayat ini, Allah menyuruh berbekal dengan takwa (QS. Al Baqarah : 197), memberikan jalan keluar dari problem yang dihadapi, dan mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka (QS. Ath Thalaq : 2-3). Bahkan, fungsi hidayah Al Qur’an secara optimal hanya diperoleh orang-orang muttaqin.


Mereka yang telah mencapai suatu tingkat dalam ketaqwaannya kepada Allah, dapat dikenal dari sikap dan prilaku sehari-hari, baik dalam ibadah maupun muamalahnya. Dari segi ibadah, mungkin agak sulit untuk menilainya, karena hal ini sangat berkaitan erat dengan selasi pribadi dengan Tuhan. Namun dari segi muamalat atau pergaulan sehari-hari, maka ada beberapa indikasi yang menjadi parameter dari ketakwaan seseorang.


Dalam hal ini ada empat indikasi yang bias didapati pada orang yang bertakwa :


  1. Berbuat baik dan tidak riya’ dalam kebaikan


Salah satu sifat dasar manusia adalah ingin dipuji atau dihormati. Banyak orang yang bebuat kebaikan untuk memperoleh pujian dan penghormatan. Ketika pujian dan penghormatan yang diharapkan itu tidak tercapai, ia akan menyesal dan bersedih. Orang seperti ini biasanya tidak peduli apakah pujian itu diberikan secara tulus atau tidak. Orang yang riya’ biasanya akan menyebut-nyebut kebaikan yang pernah dilakukannya sehingga secara tidak sengaja akan menyakiti orang yang pernah menerima kebaikannya.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan sedekah kamu dengan menyebut-nyebut dan mengganggu (pesaraan si penerima)” (QS. Al Baqarah : 264)


Orang yang bertakwa senantiasa berbuat baik dengan tulus dan ikhlas karena mengharap ridha Allah, tanpa tendensi duniawi apapun. Ia tidak mengharapkan pujian atas kebaikannya, tidak pula mengincar kedudukan atau kekuasaan dari harta yang disumbangkan.


  1. Mencari-cari kesalahan sendiri dan tidak membicarakan kekurangan orang lain.


Seringkali orang sibuk melihat segala kekurangan orang lain. Sedemikian asyiknya sehingga lupa akan kekurangannya sendiri. Padahal sesungguhnya tak ada seorang pun didunia ini yang memiliki kesempurnaan paripurna. Orang yang bertakwa tidaklah demikian. Ketika melihat atau hendak membicarakan keburukan orang lain, maka bibirnya menjadi bungkam, dan lidahnya kelu, tertahan oleh hamparan aibnya sendiri yang belum ia perbaiki. Sedemikian sibuk ia memikirkan aibnya sendiri, maka ia lupa dan tidak punya waktu untuk melihat aib orang lain. Sikap seperti ini mendapat pujian khusus dari Rasulullah saw ;


Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri paripada (memikirkan) aib orang lain”


Bersikap arip dan mawas diri dengan menginstropeksi diri sendiri, akan sejalan dengan semangat persatuan dan ukhuwah yang menumbuhkan suatu kekuatan dalam masyarakat. Sebaliknya, sikap mencari-cari kesalahan orang lain akan menyebarkan sikap permusuhan dan perpecahan yang justru akan melemahkan sendi-sendi kemasyarakatan.


  1. Dalam usuran harta, senantiasa melihat yang ke bawah


Harta dan kebahagian hidup bagi sebagian orang hampir-hampir merupakan kesatuan. Artinya, seseorang akan dianggap mencapai kebahagian dan ketenangan hidup manakala di sekelilingnya berlimpahan harta benda. Semakin banyak harta yang dimiliki semakin bahagialah dia. Sebaliknya, semakin sedikit harta yang dimilikinya maka semakin sengsaralah ia. Orang yang berpandangan seperti ini akhirnya akan mengejar harta sekuat-kuatnya karena takut sengsara, dan bila harta yang diperolehnya sedikit, ia akan berkeluh kesah, gelisah, dan kehilangan kesabaran sehingga ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkannya. Orang yang bertakwa tidak peduli hartanya sedikit atau banyak. Katika ia memiliki sedikit harta ia akan bersyukur karena sadar bahwa masih banyak yang hartanya lebih sedikit. Sebaliknya, ketika ia mempunyai harta yang banyak, ia tidak akan sombong, karena ia akan sadar bahwa harta itu hanyalah titipan dari Allah yang harus ia pertanggungjawabkan kelak.


Jika kamu bersyukur niscaya Akau tambahkan (nikmat itu), dan jika kamu kufur makan (ingatlah) siksa_Ku amat pedih” (QS. Ibrahim : 7)


  1. Dalam masalah keagamaan selalu melihat ke atas.


Berbeda pangdangannya dalam masalah harta, bagi orang bertakwa kuantitas dan kualitas dalam amal ibadah amat penting. Ketika ia melihat orang yang lebih sholeh, maka ia berusaha untuk menambah dan memperbanyak amal kebaikkannya. Karena itu, ia menyukai bergaul dengan orang-orang sholeh dan berusaha belajar dan mencontoh mereka. Buku-buku yang memuat perjalanan hidup para wali dan tokoh muslim senantiasa ia pelajari untuk diambil perbandingan bagi dirinya sendiri dan diambil pelajaran untuk menjadi lebih baik.


Bagaimana meraih derajat takwa . . . ???


Secara sederhana, tahap untuk melangkah ke arah ini adalah dengan kedisiplinan diri menjalankan syari’at Illahi, berupa komitmen dan konsestensi dalam menunaikan kewajiban agama dan menjauhi larangan_Nya. Bila ini telah diperoleh, maka akan timbul kesadaran baru, dimana hati dan perilaku yang sudah seiring dengan ajaran agama akan lebih baik. Perintah shalat, misalnya, yang wajibnya hanya lima kali pada tahapan ini sudah mulai ditambah dengan berbagai shalat nawafil, yakni shalat-shalat sunnat, termasuk puasa sunnat dan umrah. Demikian juga dalam menjauhi larangan Illahi, bukan hanya yang jelas haramnya, tetapi juga segala bentuk yang samara-samar (syubhat), sehingga yang bersangkutan menjadi wara’. Yakni menghindari hal-hal yang tidak berguna. Pada tahapan yang lebih tinggi lagi, kesadaran yang timbul adalah kesadaran akan kehadiran Illahi di setiap saat dan setiap tempat. Ia selalu menjadikan Allah sebagai tujuan dari setiap aktivitasnya. Maka berpencarlah nilai-nilai ketuhanan dalam ucapan dan perbuatannya.


Pada akhirnya, semoga ini bias menjadi bahan renungan bagi kita untuk melihat tingkat ketakwaan yang kita miliki. Sudah pantaskah kita menyandang delar terhormat sebagai orang muttaqin . . . ? Atau sudah siapkah kita memulai langkah-langkah untuk menggapai derajat yang mulia ini . . . ? Semuanya terpulang pada diri kita masing-masing. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba_Nya yang terbaik. Amin.