PUASA DAN PEMBINAAN MENTAL

(Sebuah Metamorfosis Menuju Insan yang Sempurna)

Oleh : Drs. H. Muhammad


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah beribadah kepada Ku” (Ad-Dzariyat : 56)


Allah swt menciptakan manusia bukanlah tanpa tujuan. Segala yang ada telah tercipta dengan fungsi yang harus diembannya, namun dari semua fungsi yang telah digariskan, ada satu tujuan pokok yang menjadikan manusia itu ada, yaitu sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Ad-Dzariyat ayat 56 di atas.


Dalam ajaran islam, ibadah dulakukan setiap waktu yang tidak mempunyai batas, maupun sifat tertentu, namun essensinya adalah menundukan jiwa dan raga kepada Allah swt. Ibadah adalah buah dari keimanan kepada Allah dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya.


Ibadah Puasa


Puasa adalah ibadah yang memiliki kekhususan dibandingkan dengan penuaian rukun islam lainnya, seperti syahadat yang dapat diucapkan dan didengarkan, atau shalat yang dapat dilakukan berjamaah dan dapat dilihat gerak-geriknya dan demikian pula soal zakat dan haji. Berpuasa tidak dapat dilihat dan diketahui dari gerakan ataupun raut muka, kecuali orang-orang yang melakukan puasa sendiri. Puasa merupakan amal ibadah yang langsung untuk Allah dan Allah lah yang membalasnya. Dalam puasa sendiri sesungguhnya ada dua kesenangan, yakni gembira pada waktu menghadap Tuhannya, seperti sabda Nabi Muhammad saw dalam hadits qudsi yang artinya :


“Semua ibadah anak Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa yang hanya untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan bagi orang-orang yang berpuasa memperoleh dua kesenangan, yakni gembira ketika berbuka dan gembira ketika menghadap Tuhannya”


Allah swt telah memfardlukan puasa pada bulan suci Ramadhan, sebagaimana firman-Nya Q.S. Al Baqarah : 183 :


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa’


Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, rahmah, dan ampunan tersebut selalu dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk meningkatkan amal ibadahnya guna terbentuknya kualitas manusia yang sempurna, insane kamil. Disamping itu dalam bulan tersebut juga diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk melatih diri guna mengendalikan hawa nafsu yang mengarah kepada hal-hal yang negatif, yaitu amarah dan lawwamah. Yaitu kecenderungan untuk menggunakan kebendaan meterialisme serta lebih mengutamakan kehidupan di dunia semata-mata tanpa mengindahkan nilai akhlak dan agama dengan mencampur adukan antara sifat individualisme, kepentingan orang banyak atau masyarakat dan menyalahgunakan kedudukan atau kekuasaan. Kecenderungan itu semua bersumber dari kedua nafsu tersebut.


Puasa dan Penempaan Diri


Ibadah puasa sebagai sebuah sarana pelatihan untuk membina kekuatan jasmaniah maupun rahaniah pada dasarnya merupakan salah satu teknik yang jitu dalam upaya pembentukkan manusia yang berkualitas. Penggemblengan yang dilakukan satu bulan penuh dibulan Ramadhan dapat dijadikan sebagai sebuah wahana tepat guna membina mental spiritual manusia agar mereka tidak hanya sekedar terampil secara kognitif, tetapi juga secara spiritual, sehingga akan tercipta manusia yang berakhlakul karimah serta berketerampilan luas. Disamping itu, ibadah puasa pada dasarnya juga merupakan latihan kedisiplinan bagi diri sendiri. Berlatih untuk mengendalikan nafsu amarah, lapar, haus, kesemuanya itu harus dikendalikan. Yang tidak kalah penting adalah kejujuran diri karena ibadah puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh diri sendiri, sehingga yang sangat dituntut adalah adanya kesedaran diri. Sehingga apabila kita tarik suatu kesimpulan, maka hikmah puasa itu diantara lain: mempertinggi budi pekerti atau akhlakul karimah, menumbuhkan kesadaran, kesetia kawanan, serta kasih sayang, terhadap sesama manusia yang lemah. Sedangkan tujuan puasa selain menahan haus dan lapar guna latihan ketahanan fisik, guna untuk menahan diri guna memerangi hawa nafsu. Bukan dalam arti mematikan hawa nafsu tersebut, tetapi mengendalikan / mengontrolnya, sehingga manusia tersebut tidak akan terjatuh dalam nafsu, diperbudak oleh hawa nafsu semata pada nafsu-nafsu yang bersifat negatif.

Sebagai hasilnya diharapkan akan tercipta manusia yang berkualitas, tidak hanya dari sisi jasmani, tapi juga rohani. Ibaratnya ulat yang mengalami proses metamorfosis, maka ketika seluruh proses telah berhasil ia lalui maka yang keluar dari kepompong bukan lagi ulat bulu yang menakutkan tetapi seekor kupu-kupu yang indah. Yang dulunya orang enggan melihat apalagi memegangnya, bahkan cenderung jijik ataupun takut, tetapi jika sudah berubah menjadi kupu-kupu maka orang justru merasa tertarik untuk menikmati keindahannya.


Proses metamorfosis yang terjadi lewat puasa inilah yang nantinya diharapkan akan senantiasa menjiwai setiap langkah hidup kita di bulan-bulan yang selanjutnya. Kita harus selalu dan selalu bermetamorfosis, selalu berubah kearah yang lebih baik, lebih indah, lebih manfaat, dan sebagainya. Perubahan kearah yang positif yang akan mengantarkan manusia ke tujuan utama, yaitu tercapainya kualitas manusia yang sempurna, Ihsan Kamil (Disariakn dari Majalah Bakti)