Persiapan Ramadhan

MENYONGSONG RAMADHAN 1429 H

(R. Agung Nugraha, M.A)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (Permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembesa (antara) yang hak dan yang bathil. Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri) tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaknya ia berpuasa pada bulan itu, ……. (Al Baqarah : 185)

Ramadhan adalah satu diantara empat bulan “haram” (mulia) dari duabelas bulan dalam perhitungan Hijriyah (Qamariyah) yang mempunyai keistimewaan dan keutamaan. Pada bulan ini diturunkan Al-Quran yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Pada bulan ini pula setiap ibadah yang merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah dilipat gandakan pahalanya, dicurah limpahkan rahmat, dibuka lebar pintu pengampunan dari dosa-dosa. Dan apabila manusia keluar dari RAmadhan dengan “Sukses”, maka tidah ada lain balasannya ialah surga dan dijauhkan dari api neraka. Sungguh betapa nikmatnya . . .

Karena penting dan mulianya bulan Ramadhan, tentu banyak hal yang perlu kita ketahui dan persiapkan guna menyambut dengan penuh suka cita datangnya Ramadhan untuk kemudian mengisinya dengan berbagai aktivitas ubudiyah yang dianjurkan.

PERSIAPAN MEMASUKI RAMADHAN

  1. Persiapan Mental dan Fisik

Bulan Ramadhan adalah bulan penempatan diri untuk menjadi hamba yang muttaqien. Banyak amal ibadah yang mesti dilakukan baik sing maupun malam harinya untuk mencapai derajat takwa tersebut. Karena banyaknya aktivitas yang mesti kita lakukan, maka kesipan fisik menjadi keniscayaan agar tidak terhanti ditengah jalan dan gagal. Puasa menahan makan dan minum dari terbit sampai terbnamnya matahari, salat tarawih, bangun malam untuk tahajud dan witir serta sahur, adalah aktivitas fisik yang membutuhkan kesiapan yang tinggi. Diatas semua itu, tentu kesiapan mentak sangat dominan mendukung kesiapan fisik tersebut.

Tanpa kesiapan mental yang kuat, maka kerja fisik tersebut tentu akan terasa sangat berat dan membebani. Sebaliknya bila mental sudah siap, seberat apapun aktivitas fisik akan terasa lebih ringan dan menyenangkan untuk dijalankan.

  1. Membersihkan Diri

Ramadhan adalah bulan yang suci dan mulia. Untuk memasuki bulan Ramadhan dan beribadah dengan khusuk serta maksimal, maka pikiran dan jiwa kita harus terlebih dahulu bersih dari bermacam sifat negatif kemanusiaan, iri dengki, dendam, dan segala macamnya harus kita hilangkan terlebih dahulu. Dosa dan kesalahan kita kepada sesama manusia harus kita mintakan maaf, sehingga tidak ada lagi beban perasaan bersalah, serta syakwa sangka dari sesama manusia. Terbebasnya kita dari kesalahan antar sesama manusia membawa kedamaian kita beribadah pada bulan Ramadhan. Termasuk dalam konteks membersihkan diri, adalah membayar hutang (puasa) bagi yang pada Ramadhan tahun lalu karena udzur harus berbuka (tidak puasa).

MENGISI RAMADHAN

Setelah mempersiapkan diri baik secara mental maupun fisik serta membersihkan diri dari dosa-dosa dan hal-hal yang dapat mengganggu kekhusukan kita beribadah dalam bulan Ramadhan, maka kita dengan tenang dapat nelakukan aktivitas ubudiyah Ramadhan sebagai berikut :

  1. Puasa Satu Bulan Penuh

Satu-satunya ibadah khusus yang wajib kita lakukan dalam bulan Ramadhan ialah puasa selama satu bulan penuh.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 183

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa (pada bulan Ramadhan) sebagaimana diwajibkan kepada orang0orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.”

Sabda Rasulullah saw :

“….Bulan Ramadhan; dimana Allah menjadikan puasa sebagai kewajiban dan shalat malam sebagai ibadah sunnah”

Ayat serta hadits di atas secara tegas menerangkan bahwa yang wajib dilakukan oleh setiap mukmin, mukallaf ialah puasa.

Begitu pentingnya nilai ibadah puasa Ramadhan ini sehingga hal ini harus benar-benar kita perhatikan. Puasa yang sebenarnya bukanlah sekedar menahan makan dan minum serta hubungan suami istri dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Namun lebih dari itu puasa mengandung dimensi transendental (hubungan dengan Allah) secara khusus. Sampai-sampai imbalannya pun khusus diberikan oleh Allah.

Sebagaimana Firman Allah dalam hadits Qudsi :

“Puasa (Ramadhan) adalah untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya”

Diamping itu puasa Ramadhan juga mempunyai makna dan implikasi sosial yang mengajarkan kesederhanaan dan kesetiakawanan dengan ikut merasakan betapa dan bagaimana rasanya lapar dan dahaga yang selalu dialami oleh orang yang dalam kehidupan dan penghidupannya tidak dapat tercukupi wajar.

  1. Mendekatkan Diri Kepada Allah

Setiap kekasih akan selalu berharap dapat senantiasa berada dekat disisi kekasihnya. Demikian juga dengan kita, apabil ingin dekat dengan kekasih yang sebenarnya (Allah), maka apapun yang menjadi sarana untuk dapat mendekati-Nya tentu akan kita lakukan. Apabila kita ingin dekat disisi Allah, maka bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena pada ini setiap usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan sebuah kebaikan, akan diganjar dengan pahala sebagaimana kita melaksanakan sesuatu yang wajib yang kita lakukan diluar Ramadhan, ketika kita melakukan ibadah wajib, maka akan diberikan pahala tujuh puluh kali lipat pahala ibadah wajib yang dikerjakan diluar Ramadhan. Pendek kata, Ramadhan adalah bulan bagi-bagi pahala dari Allah . . .

  1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

AlQur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan merupakan petunjuk dan jalan hidup (way of life) bagi manusia. Untuk dapat mengikuti petunjuk Al Qur’an, maka “bacaan” ini harus senantiasa kita bca dan pahami. Setiap huruf dari Al Qur’an yang kita baca adalah pahala, dan memperbanyak membaca Al Qur’an di bulan Ramadhan adalah keutamaan.

  1. Tarawih dan Memperbanyak Shalat Sunnat

Shalat selain yang telah ditetapkan hukum wajibnya (Shalat fardhu) merupakan keutamaan. Tentu shalat yang dituntunkan oleh Rasulullah. Dhuha, istikharah, tarawih/shalat malam/tahajud dan witir adalah shalat-shalat sunnat yang sangat dianjurkan (muakkad), baik di bulan Ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya. Oleh karenanya, memperbanyak shalat sunnat tersebut pada bulan Ramadhan tentu merupakan keutamaan yang patut kita kerjakan.

  1. Memperbanyak Infak, Shadaqah, dan Memberi Ta’jil

Bulan Ramadhan adalah bulan muwaasat (bulan yang memberi pertolongan), dan bulan dimana rezeki orang-orang mukmin ditambah. Barang siapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan, maka yang demikian itu adalah sebagai pengampunan bagi dosa-dosanya dan kemerdekaan bagi dirinya sendiri dari siksa neraka.

Sabda Rasululla; “ Barang siapa memberikan minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberikan minuman kepadanya dari air telaga-Ku, dengan minuman yang seorang pun tidak akan merasakan haus dan dahaga lagi sesudah meminumnya, sampai ia masuk kedalam surga. (Al Hadits)

Demikian juga dengan infaq dan shadaqah yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan bernilai lebih dari yang kita lakukan di luar bulan Ramadhan.

  1. Menghindari Perkataan dan Perbuatan Dusta

Puasa adalah untuk melatih seseorang berbuat jujur serta untuk melatih kesabaran. Karena dapat saja seseorang mengaku berpuasa si depan orang, tetapi secara sembunyi-sembunyi ia makan dan minum. Oleh karenanya, barang siapa yang berpuasa tetapi masih berkata dusta dan berbuat dusta, sebenarnya ia belum berpuasa. Di sinilah nilai tertinggi dari puasa, sehingga pahalanya ditentukan sendiri oleh Allah.

  1. Membayar Zakat

Zakat fitrah adalah kewajiban setiap islam yang mempunyai persediaan makan minimal sehari saat hari raya. Zakat fitrah berupa makanan pokok senilai 2 Sho’ (sekitar 2,3 kg beras). Kewajiban ini termasuk juga berlaku bagi bayi yang lahir sebelum shalat idul fitri, yang harus dikeluarkan oleh orang tuanya.

Disamping zakat fitrah, dapat juga sekaligus dibayarkan zakar maal (zakat harta). Dalam harta yang kita miliki, 2,5 % adalah milik Allah yang wajib kita keluarkan zakatnya. Sebetulnya, kewajiban zakat maaltidaklah terkait langsung dengan bulan Ramadhan, melainkan terkait - -didasarkan pada- - batasan minimal yang harus dizakati. (Nishab = senilai 85 gram emas murni menurut Yusuf Al Qardhawi atau 95 gram menurut Imam Syafi’i) lama masa kepemilikan (Haul = setelah satu tahun penuh dimiliki). Namun demikian, tidak ada salahnya, bahkan utama bila kita mengeluarkan zakat maal tersebut pada akhir Ramadhan. Prinsipnya adalah diberikan kepada yang berhak (mustahiq), dapat diserahkan secara langsung atau agar lebih terarah dan optimal dapat diserahkan kepada badan/lembaga amil zakat yang profesional dan amanah.

PASCA RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah masa dimana kita digembleng untuk dapat mengendalikan hawa nafsu berupa makan, minum, hubungan suami istri, perkataan dan atau perbuatan yang dusta atau sia-sia. Secara umum tujuan diwajibkannya setiap muslim untuk berpuasa adalah untuk mencapai derajat taqwa. Implementasi takwa ialah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan Allah.

Mari kita sambut Ramadhan 1429 H ini dengan suka cita seraya mengucap MARHABAN YA RAMADHAN