SHALAT YANG TIDAK MEMBUAT CELAKA . . . ?

Oleh : R. Agung Nugraha


Maka, celakalah orang-orang yang mengerjakan shalat, yaitu yang lalai dalam shalatnya. Orang-orang yang riya` (yang mengerjakan shalat untuk dilihat orang) (Al Ma`un : 4-6).



Membaca judul tulisan ini, tentu muncul pertanyaan dari pembaca, apa ada shalat yang dapat mencelakakan pelakunya . . . ?


Ketika Rasulullah bersabda “yang pertama dihisab di hari akhir (kiamat) ialah shalat”, sampai disini kita akan merasa tenang karena telah mengerjakan shalat. Namun apabila kita memahami lebih jauh kelanjutan hadits Nabi tersebut, kita akan sadar bahwa meskipun sudah melakukan shalat tetapi masih bias celaka, apabila shalat kita tidak baik. Sebagaimana sabda Nabi : “Apabila baik ibadah shalatnya, maka baik pulalah seluruh amal yang lain”.


Pertanyaan selanjutnya adalah : apa yang dapat menyebabkan shalat kita baik sehingga kita akan selamat ? Dan bagaimana mewujudkannya ? Serta bagaimana agar kita yang sudah shalat ini tidak termasuk orang-orang yang merugi dan celaka ?

Bulan Rajab adalah bulan dimana perintah shalat diturunkan. Adalah tepat kiranya bila kita menggali dan mengevaluasi shalat kita dengan mempelajari lagi dasar dan urgensi perintah shalat, serta apa-apa yang menyebabkan kita merugi, padaal sudah melaksanakan shalat. Tentu banyak keterangan baik dalam Al Qur`an maupun Hadits Rasul yang menjelaskan agar shalat kita menjadi baik sehingga kita tidak termasuk golongan orang yang merugi.



DASAR PERINTAH SHALAT


Begitu pentingnya shalat dalam lehidupan makhluk_Nya, sampai-sampai Allah berulang kali memerintahkan dan mengingatkannya. Terkadang perintah shalat berdiri sendiri, tetapi tidak jarang dikaitkan dengan amal yang lain. Antara lain Firman Allah


Wahai anakku, dirikanlah shalat dan (perintahkanlah) untuk berbuat ma`ruf dan cegahlah perbuatan munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal yang diwajibkan olah Allah”


Berikut, beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar shalat kita berkualitas, tidak berkurang pahalanya sehingga kita tidak termasuk orang yang merugi :


  1. Meninggalkan Shalat

Jangan sampai kita meninggalkan shalat. Orang yang sudah mengerjakan shalat saja masih bisa merugi terlebih apabila shalat ditinggalkan. Firman Allah :


Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam Neraka Saqar ? “ Mereka menjawab, karena kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat. (Al Mudattsir : 4)


Rasulullah juga menjelaskan, “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah Shalat, barangsiapa meninggalkannya maka ia telah kafir (HR. Ahmad, Shahih)


Tentang betapa beratnya akibat meninggalkan shalat ini para Ulama bersepakat (Ijma`) berdasarkan Ucapan Abdullah Bin Syaqiq : Para shahabat Nabi tidak berpendapat ada suatu amalan yang jika ditinggalkan menjadi kufur kecuali masalah shalat. (HR. Tirmidzi, Shahih)


Masih banyak Ayat dan Hadits lai yang menerangkan perintah shalat dan keutamaannya.


  1. Mengakhirkan Shalat

Terkadang bahkan atau sering kita menunda dan mengakhirkan shalat tanpa udzur. Terhadap yan gdemikian itu Nabi bersabda : “Itu adalah (ibarad-red) shalatnya orang yang tenggelam ia berdiri dan menukik empat rokaat, sedang ia tidak mengingat Allah didalamnya kecuali sedikit (HR. Muslim)


Padahal Allah berfirman :


Sesungguhnya Shalat itu wajib atas orang-orang beriman pada waktu yang telah ditentukan (An Nisa : 103)


Juga sabda Rasul : “Shalatlah \9tepat) pada waktunya”. Tentang pengertian bahwa waktu shalat telah ditentukan dan shalat pada waktunya, Para Ulama’ telah bersepakat bermakna “di awal waktu”. Sehingga mengakhirkan shalt tanpa udzur yang dibolehkan syara’ berarti kita telah lalai dari mengingat Allah.


  1. Shalat untuk dilihat orang

Banyak diantar kita mengerjakan shalat hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Shalat baru kita usahakan bagus bahkan berlama-lama apabila kita shalat diantara banyak orang atau untuk memikat perhatian orang lain. Terhadap yang demikian itu Allah berfirman ;


(Maka) celakalah bagi orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang riya’ (shalat untuk dilihat orang)”. (Al Ma’un : 4-6)


Rasulullah bersabda : “Maukah kamu aku beritahukan apa yang paling aku takutkan (menimpa) kamu lebih dari takutku atasmu terhadap Al Almasih ad-Dajjal ?, para shahabat menjawab mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : yaitu syirik khafi (syirik yang tersembunyi) ; bahwa seseorang berdiri melaksanakan shalat karena banyak orang yang sedang memperhatikannya.’ (HR. Imam Ahmad).


  1. Tidak Thuma`ninah

Thuma’ninah ialah tenang ketika sedang melakukan shalat. Thuma’ninah merupakan rukun shalat, karenanya tidak sah seseorang apabila tidak dilakukan dengan thuma’ninah. Tenang yang dimaksu ialah tidak tergesa-gesa dalam melakukan gerakan-gerakan shalat. Nabi bersabda kepada orang yang tergesa-gesa dan tidak thuma’ninah dalam shalat : “Kembali dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat”


  1. Tidak Khusuk dan Banyak Bergerak

Hendaknya setiap orang melakukan shalat dengan khusuk, sehingga memperoleh pehala yang sempurna. Allah memuji orang yang khusuk dalam shalat;


Beruntunglah orang-orang mukmin, (yaitu) orang-orang yang khusuk dalam shalatnya” (Al Mukminun : 1-2)


  1. Melakukan sesuatu yang melalaikan Shalat

Orang yang melakukan sesuatu sehingga melalaikan shalat berarti ia lebih menurutkan hawa nafsu daripada mentaati Allah. Betapa banyak orang yang tetap sibuk dengan pekerjaannya, atau bahkan sekedar nonton TV, ngobrol dan sebagainya, sementara seruan adzan telah berkumandang. Allah berfirman ;


Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah, barang siapa yang demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”


  1. Membaca Al Qur`an dengan tidak baik dan benar

Betapapun membaca setiap huruf Al Qur’an berpahala, serta meskipun kita tidak dapat membaca Surat Al Fatihah pun shalat kita sudah sah, tetapi mengingat Shalat adalah komunikasi antara kita dengan Allah, tentu sudah seharusnya kita selalu memperbaiki / membaguskan komunikasi kita itu. Cara yang dapat dan harus selalu kita usahakan ialah dengan senantiasa membaca ayat-ayat dan do’a-do’a yang ada dalam shalat sesuai dengan kaidah bacaan yang baik dan benar, baik dalam hal ukuran panjang pendeknya (mad) juga makhrajnya (makharijul hurf). Kita harus belajar dan terus berusaha agar bacaan kita semakin hari semakin baik.



PENTINGNYA SHALAT


Kurangnya perhatian kita terhadap shalat, bahkan sampai-sampai kita meninggalkan shalat, barangkali disebabkan karena kita kurang mengerti dan memahami betapa pentingnya shalat untuk diri kita. Berikut hal yang perlu kita ketahui dari manfaat shalat, antara lain ;


  1. Mencegah perbuatan keji dan munkar

Orang yang mendirikan shalat, maka segala perbuatannya akan senantiasa dilandasi dengan pengertian bahwa dirinya selalu dilihat oleh Allah. Dengan merasa selalu dilihat oleh Allah, ia akan malu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Firman Allah ; “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar” (Al Ankabut : 4-5)


  1. Melatih kesabaran

Kesabaran bagi seseorang merupakan hal yang penting, tanpa kesabaran segala sesuatu menjadi tidak optimal. Suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa kesabaran senantiasa akan dirasa terdapat kekurangan. Namun demikian, shalat dan sabar merupakan sesuatu yang berat untuk dikerjakan. Firman Allah :


Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk.” ( Al Baqarah : 45)


Demikianlah, jika kita benar-benar mendirikan shalat, betapa sebetulnya banyak manfaat yang dapat kita petik selain dua hal tersebut. Mendirikan shalat dalam pengertian ini tentu bukan sekedar melaksanakan shalat untuk menggugurkan kewajiban.


Mendirikan Shalat sebagaimana diterangkan dalam Surat Al Mukminun ayat 2 dan 9, jelas disebutkan orang mukmin yang beruntung ialah orang yang khusuk dalam shalatnya dan selalu menjaga shalat. Menjaga shalat mencakup pengertian tidak pernah ada shalat yang terlewatkan, dikerjakan tepat waktu, juga menjaga seluruh amal perbuatannya, senantiasa sesuai dengan bacaan, maupun do’a-do’a yang ia lafalkan dalam shalat tersebut. Dengan mengetahui dasar perintah shalat, beberapa hal yang dapat mengurangi nilai shalat serta kemanfaatan yang dapat dirasakan dengan mendirikan shalat. Tentu kita akan memulai dari sekarang . . . . .