MEMELIHARA SIFAT AMANAH

R. Agung Nugraha, MA


Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al-Mu`minun 23:8)


Dalam ayat tersebut, Allah mempersyaratkan setiap orang yang ingin beruntung harus memiliki dua sifat, yaitu amanah dan menepati janji. Dua sifat ini disatukan penyebutannya dalam satu ayat karena mempunyai pengertian yang berdekatan. Ketika kita mampu menyatukan dua hal tersebut dalam diri kita, maka kesuksesan dan keberuntungan akan menyertai diri kita.


Dua hal itu pula yang saat ini selalu digelorakan dan dituntut, terutama dari para pemegang kekuasaan, baik pemerintah (eksekutif) maupun penegak hokum (yudikatif) serta calon anggota legeslatif yang saat ini sudak mulai berancang-ancang meraih simpati rakyat. Persoalannya ialah, apa sebetulnya pengertian amanah dan tepat janji serta bagaimana mewujudkan keduanya, serta bagaimana mengukurnya ? Hal itulah yang secara sederhana dan terbatas akan dibahas dalam tulisan ini.


Pengertian Amanah


Sikap amanah merupakan kebaikan dari khianat. Jadi bila dikatakan dengan “mengamanatkan sesuatu atau barang”. Berarti menjadikan barang titipan itu untuk disimpan dan dijaga ditempatnya. Jika barang tersebut diminta kembali oleh pemiliknya, maka ia harus mengembalikannya secara utuh.


Seseorang dinamakan amin apabila ia dapat dipercaya untuk menjaga harta serta hal-hal yang diharamkan kepadanya. Sifat amanat juga diartikan dapat mengekang pandangan dan ucapan dari hal-hal yang diharamkan. Dalam Surat Al-Qashas ayat 26, Allah swt. Telah mengisahlan mengenai putrid Nabi Syu1aib dengan firman_Nya :


Salah seorang dari kedua wanita itu berkata; “Ya bapakku, ambilah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.


Dalam ayat tersebut, yang dimaksud dengan “kuat” adalah menimbakan air bagi mereka. Sedangkan perkataan “dapat dipercaya” tidak lain adalah dapat mengekang pendangan terhadap putrid Nabi Syu`aib. Dengan demikian, ia tidak akan melakukan pandangan yang menggunakansyahwat kepada mereka.


Amanat dapat diartikan juga sebagai niat atau kewajiban yang telah menjadi tenggung jawabnya. Perhatikan firman_Nya :


Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bimi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, sesungguhnya manusia itu amat zallim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzaab ayat : 72)


Selain itu amanat juga berarti tabligh untuk menyampaikan risalah tanpa mengubah atau menggantikannya. Tugas meulia seperti itu senantiasa dilakukan oleh para utusan_Nya, baik Nabi maupun Rasul. Diungkapkan dalam firman_Nya ;


Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka : “mengapa kamu tidak bertaqwa ? sesungguhnya aku adalah rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”. (QS. Asyu`ara : 106-107).


Pada bagian lain, Allah swt juga berfirman dalam surat Asyu`ara 124-125 :


Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka : “mengapa kamu tidak bertaqwa ? sesungguhnya aku adalah seseorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”


Dalam firman_Nya yang tertera pada surat yang sama ayat 193-194 :


Dia dibawa turun oleh Ar Ruh, Al Amin (Jibril), kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberimu peringatan”.


Amanat kadangkala juga bermakna dapat dipercaya atau yakinkan. Makna tersebut, misalnya terungkap dalam kisah Nabi Yusuf melalui firman_Nya pada surat Yusuf ayat 11 yang menceritakan perkataan saudara-saudara Yusuf kepada ayah mereka :


Mereka berkata : “wahai ayah kami, apa sebabnyya kamu tidak mempercayai kami terhadap yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya”. (QS. Yusuf :11)


Perintah Bersifat Amanah



Allah swt telah memerintahkan kepada kita agar dapat menunaikan amanat dengan sebaik-baiknya. Perhatikan firman_Nya :


Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya . . . (QS. An Nisaa : 58)


Juga dalam surat Al Baqarah : 283


Akan tetapi sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya”.


Sedangkan dalam bagian lain, Allah swt juga berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya”. (QS. Al Anfal :27).


Hikmah dari Sifat Amanah dan Akibat Mengingkarinya


Berdasarkan pengertian dan perintah untuk bersifat amanah, kita mengetahui bahwa mengingkari amanat itu berarti berbuak khianat. Dan perbuatan khianat membawa dampak negative yang besar dikalangan masyarakat. Sedangkan menurut hadist Rasulullah saw, pengkhianatan merupakan kehilangan keimanan bagi pelakunya. Artinya orang yang berkhianat berarti sudah tidak memiliki iman lagi.


Dalam hadist marfu` yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda ;


Tidaklah beriman seseorang yang tidak mempunyai sifat amanat (dapat dipercaya), dan tidak memiliki agama bagi orang yang tidak memenuhi janji setianya”.


Pada bagian lain dalam QS Ali Imran : 75, Allah memberitahukan kepada kita tentang keadaan sebagian ahli kitab (Nasrani dan Yahudi) yang meninggalkan sifat amanat, terutama jika yang memberi amanat adalah kaum muslimin.


Alasan mereka berkhianat karena mereka menganggap tidak akan berdosa jika dilakukan terhadap orang-orang yang ummi (orang arab). Karena anggapannya yang keliru itu, mereka kemudian berkhianat apabila diberi amanat.


Katia ahli kitab mengatakan : “Laisa1alainaa fil ummiyyina sabiilaa”, Rasulullah bersabda berdasarkan riwayat dariSa`id bin Jubair, beliau bersabda ;


Sesungguhnya telah berdusta musuh-musuh Allah (orang Yahudi). Tidak satupun dizaman jahiliyah yang berada dibawah telapak kakiku, kecuali amanat. Mereka semuanya telah diberikan kepada setiap orang yang baik maupun orang yang jahat”.


Dengan sifat amanah yang dimiliki Rasulullah saw, beliau memberikan semua hak dan amanat yang telah diembankannya kepada setiap orang yang berhak pada saat beliau melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Sedangkan hal-hal lain yang belum disampaikan secara langsung oleh beliau sendiri, beliau wasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib yang ditinggalkan titempat tidurnya. Sebelum meninggalkan kota Mekah, nama-nama orang yang dititipi amanah itu telah disampaikan oleh Rasulullah kepada Ali dan Ali pun sudah mengetahui pula. Kebanyakan barang yang diamanatkan itu adalah harta milik orang-orang yang musyrik.


Islam telah memberikan ajarannya yang mulia kepada umatnya, dan mereka mau menerima dan menjalankannya dengan konsisten. Sikap demikian telah terbukti tetkala mereka mau mengamalkan perintah amar ma`ruf nahi munkar. Cermin kehidupan mereka didapatkan dari keteladanan Rasulullah saw. Oleh karena itulah, mereka nerani menghadapi segala tantangan dan resiko yang menghalangi langkah-langkah mereka menuju terciptanya keadaan yang baik. Salah satu diantara upaya itu adalah dengan memelihara sifat amanah tersebut.


Sejarah umat Islam telah membuktikan adanya hal itu. Salah satu contoh diantaranya adalah sebuah kisah yang sangat masyhurdalam panggung perjalanan umat Islam. Ketika Allah memberikan anugrah_Nya kepada umat Islam berupa kekayaan yang berlimpah ruah.


Harta kekayaan yang dimiliki oleh umat Islam itu termasuk diantaranya harta kekayaan kisra dan kaisar. Dikumpulkan harta kekayaan yang tidak ternilai jumlahnya itu menjadi satu, kemudian dikirimkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Oleh khalifah Umar, harta tersebut kemudian dimasukan ke dalam Baitul Maal. Dalam peristiwa itulah, terucapkan kata-kata Umar yang sangat masyhur : “Seandainya setiap kaum melaksanakan yang demikian ini (yaitu amanat), maka pastilah kita akan merasakan suasana yang damai, aman dan sentosa”.


Sayangnya, sikap amanah tersebut telah mulai luntur dari umat Islam. Betapa kita banyak menyaksikan peristiwa yang dapat dikatagorikan sebagai khianat. Kasus korupsi dan suap adalah contoh nyata sikap khianat pada masa sekarang ini. Padahal Rasulullah saw telah memasukkan sifat khianat ke dalam katagori sifat-sifat orang munafik.


Rasulullah saw bersabda :


Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga (yaitu) apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila ia diberi amanat ia berkhianat”. (HR. Muslim)


Akhirnya, tentu kita tidak ingin masuk dalam katagori orang munafik yang terbiasa dan tidak merasa bersalah mengingkari janji dan amanah. Satu-satunya jalan ialah menunaikan amanah dan janji itu dengan sebaik-baiknya, maka kita akan menjadi seorang yang beruntung (muflihun) baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga . . . . .