Menghindari Iri, Dengki dan Dendam

R.Agung Nugraha



Dan orang-orang yang dating sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo`a : Ya Tuhan Kami, beri ampunanlah kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu dari kami, dan saudara-saudara kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (AL Hasr :10)




Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pendangan mata seseorang kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari kebingungan serta dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Orang yang bersih hatinya dan sehat jiwanya ialah mereka yang apabila melihat suatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang, dan apabila melihat hamba Allah yang tertimpa musibah, ia merasa sedih dan mengharapkan agar Allah meringankan penderitaannya serta mengampuni dosanya. Berbahagialah orang-orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pemaaf. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati, karena hati yang bersih, jernih dan bersinar dapat menyuburkan amal dan mendorong semangat untuk meningkatkan amal ibadah. Allah memberkahi dan memberi segala karunia –Nya kepada orang yang hatinya bersih. Sebaliknya hati yang penuh dengan noda dan kedengkian dapat merusak amal shaleh, bahkan manghancurkan ketenangan jiwanya.




Rasa permusuhan yang tumbuh dengan seubue dan bahkan berakar dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih saying. Hilangnya rasa kasih saying dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Hal ini kemudian akan menghilangkan keseimbangan yang menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, yang pada akhirnya dapat mengarah pada dosa-dosa besar yang bermuara pada kutukan Allah.



Perasaan iri hati dan dengki karena orang lain mempeoleh nikmat, terkadang dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan, sehingga membuat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan mengingatkan umatnya agar tidak terjerumur kedalamnya. Sebaliknya mengcegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang utama.


Rasulullah bersabda : “Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih utama dari puasa, shalat, dan shadaqah ?, Jawab Sahabat : Tentu saja mau. Rasul Bersabda : Mendamaikan diantara kamu akan menjadi pencukur, bukan pencukur rambut, melainkan pencukur (perusak) Agama. (HR. Tirmidzi)




Setan terkadang tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi ia sering menggoda dan menyesatkan manusia melalui celah-celah pergaulan dengan merusak kedamaian diantara mereka, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendali, mereka akan tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya. Mereka bagaikan menyembah berhala. Disinilah setan mulai menyalakan api permusuhan di dalam hati manusia. Jika api permusuha telah menyala dan membakar manusia, ia akan merasa senang, karena dapat membakar hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa watak dan tabiat manusia itu berbeda-beda, demikian juga dengan kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu, dalam pergaulan di lapangan kehidupan, terkadang perbedaan itu membuka kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Islam telah memberikan cara penanggulangannya, yaitu dengan syariat penetapan akhlak yang baik, memupuk rasa kasih saying dan perdamaian, serta menghindari permusuhan.

Terkadang kita merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita tidak mampu mengendalikan perasaan kita. Apabila pikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan seseorang. Tetapi Allah tidak rela terhadap perbuatan demikian. Memutuskan hubungan dengan sesama muslim.




Iman yang mereka miliki hanyalah berpura-pura (sebaga kedok) saja, orang-orang munafik mudah sekali berubah pendiriannya karena terombang ambing situasi. Akibatnya mereka menjadi plin-plan, bahkan kadang sering dihantui rasa ragu dan was-was sehingga ada perubahan sedikit saja mereka menampakkan kegelisahannya. Dalam hati mereka ada penyakit gelisah, was-was, iri, dengki, dan yang lain. Bila hal itu dibiarkan maka penyakit dan kegelisahan tersebut akan semakin bertambah. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Baqarah : 10: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”




Oleh karena itu, sesame muslim dilarang untuk saling mencurigai, iri, dengki, dendam, dan sebagainya yang biasanya berujung dengan tidak bertegur sapa dan mendiamkan saudaranya, sebagaimana sabda Nabi saw ;


Janganlah kamu saling memutuskan hubungan, saling membelakangi (tidak bertegur sapa), saling membenci, dan saling menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama lain, dan tidaklah halal bagi setiap muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)




Batas tiga hari dalam hadits tersebut mengandung pengertian bahwa pada umumny dalam waktu tiga hari kemarahan seseorang telah mereda. Setelah itu wajib bagi seorang muslim untuk menyambung kembali hubungan persaudaraannya, karena putusnya hubungan persaudaraan ini tidak ubahnya seperti awan hitam atau mendung, apabila telah dihempas angina, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali.




Dengan saling bertegur sapa, cinta kasih serta bersifat pemaaf, maka perasaan dendam (hiqid), yang merupakan bibit permusuhan dan rasa sakit hati yang dapat mencelakakan orang lain dapat dihindari.

BERSAUDARALAH KARENA ALLAH

Untuk menghindari sifat dengki, hasut, dendam dan yang sejenisnya, maka islam telah menggariskan bagaimana seharusnya persaudaraan sesame muslim itu dibangun. Persaudaraan Islam haruslah dibangun karena Allah. Hanya dengan hal inilah persaudaraan Islam itu akan lestari dan abadi, karena apabila terjadi satu dua permasalahan yang timbul diantara mereka, saudara yang lain dapat menjadi penengah (muslih) untuk segera kembali bersatu dan saling berbuat baik.

Allah berfirmah dalam surat Al Hujurat : 10

Sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara maka damaikanlah antara saudaramu Kaum Muslimin itu bersaudara. Hal ini adalah pedoman umum yang harus dipegang oleh setiap muslim.




Persaudaraan dalam Islam tidak dibatasi oleh batas geografis (tempat) ataupun etnis (kesukuan), tidak dibatasi oleh jauhnya jarak ataupun luasnya lautan. Batas persaudaraan yang diajarkan Islam kepada kita ialah wilayah aqidah. Setiap muslim bersaudara karena kesamaan Aqidah mereka. Bukan lantaran karena satu tanah air, juga bukan karena satu darah turunan. Dimanapun berada, seorang muslim tetap bersaudara, mereka dipersatukan dan dipersaudarakan oleh Islam, meskipun dibatasi oleh pulau, suku atau bahkan Negara sekalipun. Dengan demikian, persaudaraan itu harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata, bukan hanya slogan kosong tanpa realisasi. Seorang mukmin bagi mukmin uang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.




Persaudaraan muslim, karena begitu kokohnya, diibaratkan oleh Rasulullah seperti satu tubuh. Apabila salah satu bagian dari tubuh itu sakit, maka bagian tibuh yang lain itu ikut merasakan sakit pula. Demikian juga dengan kesehatannya.




Dari Nu`man bin Basyir ra. Rasul bersabda : “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta kasih dan rahmat hati mereka bagaikan satu badan. Apabila satu nggota menderita, maka menjalarlah penderitaan itu keseluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas.” (HR. Bukhari, Muslim)




Perbedaan pendapat, selama masih dalam batas yang diperbolehkan aturan syar`I semestinya tidak perlu dipermasalahkan secara mendalam dan berlebihan. Perbedaan pendapat bukanlah penghalang bagi kaum mukminin untuk berukhuwah secara baik. Kita bias bekerja bersama pada hal-hal yang memang kita semua sepakati. Adapun masalah khilaf, hendaklah disikapi secara proporsional, serta tidak melebih-lebihkan urusan yang sesestinya bias disederhanakan.




Prinsip yang selalu dikemukakan oleh Hasan Al Bana; kita bekerja sama pada hal-hal yang kita sepakat, serta kita toleransi dalam hal-hal yang kita berselisih. Tentu toleransi pada hal-hal yang masih dalam batas yang masih mungkin dilakukan dan diperbolehkan syar`i. Yang kita perlukan bukanlah memperbesar jurang perbedaan, justru kita mulai dari adanya persamaan-persamaan. Dengan jalan seperti ini persaudaraan bias berjalan dengan baik tanpa terganggu oleh adanya perbedaan dalam hal furu`, sebagaimana firman Allah : Dan berpegang teguhlah pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai . . .(Ali Imran : 103). Untuk menghindari sifat dengki, iri, dan dendam, mari kita bangun sifat ruhama (lemah lembut) secara bersama. Semoga . . .