Tentang Islam dan Kasih Sayang

ISLAM AGAMA KASIH SAYANG

Oleh : Abu Hakam

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS;5:6)”


Islam adalah Agama Kasih Sayang, dan Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukti kasih sayang Allah kepada manusia adalah dijadikanNya manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Kemudian untuk mengemban tugasnya yang mulia, manusia dibekali oleh Allah berupa sebaik-baik bentuk (sempurna). Manusia diberi akal, supaya manusia mempunyai kemampuan memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta serta yang ada di dalam dirinya sendiri. Dibekali-Nya manusia dengan ilham, supaya manusia mempunyai kemampuan membedakan kebaikan dan keburukan. Manusia dibekali dengan wahyu melalui Rasul-Nya yang mulia sebagai petunjuk (huda), penerang (nur), pelajaran (ibrah), dan obat (syifa`) bagi manusia. Kemudian Allah memberi kebebasan kepada manusia dengan semua bekal itu, apakah dia mau bersyukur atau mengingkari nikmat-nikmat Allah tersebut. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Kemudian Allah jadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal diantara mereka. Ditetapkan pula oleh Allah ukuran dan kriteria untuk menilai kelebihan dan kemuliaan diantara mereka, yaitu takwa (Al Hujurat:13) sebagai ukuran mutlak dan abadi, yang menjungkir balikkan segala batasan jahiliyyah manusia dalam mengukur kemuliaan seseorang, yaitu kebagusan rupa semata, atau kekuatan fisik, kekayaan, keturunan, dll.


Dijadikan pula oleh Allah kaum (orang/ bangsa) yang telah lalu sebagai pelajaran dan sekaligus bukti bagi manusia bahwa Ayat-ayat Allah itu selalu benar. Kaum Tsamud yang membelah gunung, Fir`aun yang membangun pasak-pasaknya yang besar, juga Qarun yang memiliki kekayaan dan “menguasai” perbendaharaan dunia. Mereka adalah contoh orang maju dalam bidang material, tetapi mereka bukanlah manusia mulia karena kekafiran mereka. Karena itulah mereka dilaknat Allah swt.


Allah juga memerintahkan manusia untuk saling mengasihi dan menyayangi diantara sesame mereka dan juga kepada makhluk lain di dunia ini. Bukankah Allah mengutus Rasulullah untuk menjadi rahmat bagi mereka sekalian alam (Al Anbiya:107). Ketika seseoran gmeminta Rasulullah mengutuk orang musyrikin, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Rasullah tidak diutus sebagai pengutuk, melainkan diutus sebagai pembawa rahmat” (HR. Bukhari).


Dalam hidup bermasyarakat, baik dengan sesame muslim maupun ketika harus berhubungan dengan orang-orang non muslim, Islam selalu menegaskan untuk senantiasa melandasi dengan kasih sayang. Bahkan ketika seseorang bergerak untuk mendakwahkan Islam kepada seluruh manusia haruslah dilandasi rasa kasih.


Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah memberi contoh bagaimana mewujudkan kasih sayang kepada umat manusia. Hal ini dapat kita lihat dalam hadits-hadts yang beliau sampaikan :


“Abu dzakar berkata : Rasulullah bersabda kepada saya : jangan kamu meremehkan (mengecilkan arti) perbuatan kebaikan sesuatupun, walau sekedar menyambut kawan dengan muka manis. (HR. Muslim) Kamu tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan kamu tidak beriman sehingga saling kasih dan sayang kepada sesame. Sukakah saya tunjukkan sesuatu jika kamu kerjakan akan timbul rasa kasih sayang diantara kamu ? Sebarkanlah salam diantara kamu (HR. Muslim)


Demikian pula ketika beliau mendakwahkan risalah Islam kepada penduduk Tha`if yang menyambut seruan dakwah beliau dengan lemparan batu dan cacian. Salah satu do`a Rasulullah ialah : Ya Allah, janganlah engkau hukum mereka, tetapi tunjukilah mereka, karena mereka sesungguhnya kaum yang tidak mengerti.”


Oleh karena itulah, landasan dakwah Islam ialah “bil hikmah wal mau`idzatil hasanah”,“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa orang-orang yang mendapat petunjuk.” sebagaimana tersebut dalam Surat An Nahl (16) :


Rasulullah berpesan : “Janganlah kamu sekalian satu dengan lainnya hasad-menghasad, tipu-menipu, benci-membenci, jauh-menjauhi, dan janganlah (merebut) membeli atau menjual (barang) yang sedang hendak dibeli atau dijual oleh orang lain. Dan jadilah engkau sekalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi orang muslim yang lain. Tidak boleh ia mendzaliminya, enggan membelanya, mendustainya, dan menghinanya. Taqwa itu di sini, dan ia mengisyarat kan ke dadanya tiga kali. Terlalulah kejahatan seseorang itu jika dia itu menghina saudaranya yang Islam. Setiap muslim bagi muslim yang lainnya dalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Imam Muslim)


Demikianlah Allah telah menjadikan dalam qalbu setiap muslim rasa kasih sayang, yang suatu saat menjadikan seseorang yang belum memahami karakter dienul Islam ini terheran. Seperti sikap kasih sayang di tujukan kepada kedua orang tua yang di firmankan Allah :


“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850].” (QS;17:23)

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (QS;31:15)”


Kemudian Allah memerintahkan umat Islam untuk memerangi penguasa yang dzalim yang membangun kekuasaannya dengan system sesat, yang dengan kekuatannya memaksa orang-orang untuk mengikuti aqidahnya yang sesat, yang tidak memberi kemerdekaan kepada rakyatnya untuk mengikuti kebenaran. Dan pergilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah (Al Anfal:39)


Rasulullah juga memberikan rambu-rambu dalam pertempuran. Sabda Rasulullah : “Janganlah kamu sekali-kali menebang pohon dan jangan pula menghandurkan bangunan”,


Juga sabda beliau : Kalian akan menemukan sekelompok orang (dikalangan musuh) yang menahan diri (tinggal di rumah dan tidak ikut berperang melawan kaum muslimin), biarkanlah mereka menahan diri. Jangan sekali-kali kalian membunuh kaum wanita, anak-anak dan orang lanjut usia.


Umar Bin Khattab ketika menerima penyerahan kota Yerusalem : “Bismillahirrahmanirrahim, inilah jaminan yang diberikan hamba Allah Amirul Mukminin kepada penduduk Yeliya (Yerusalem) mengenai keamanan. Ia memberikan kepada mereka jaminan keamanan atas jiwa mereka, harta benda mereka, gereja-gereja mereka, dan salib-salib mereka; baik yang dalam keadaan rusak, termasuk semua ibadah yang dilakukan di dalamnya. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki, tidak akan dirobohkan, tidak akan dikurangi isinya, ataupun semua yang ada disekitarnya dan apa saja yang menjadi milik mereka. Mereka tidak dipaksa meninggalkan agamanya dan tidak seorangpun dari mereka akan diganggu”.


Inilah suatu karakter dan sifat generasi yang diisyaratkan Allah : “(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urasan”. (Al Hajj : 41)


Ketika generasi seperti ini hidup di tengah-tengah umat kemudian mengatur kehidupan umat, akan terciptalah rahmat (kasih sayang) diseluruh alam. Akan tetapi ketika generasi semacam ini tenggelam dalam memimpin umat, akan kita saksikan musibah besar yang menimpa umat manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin membawa manusia kepada kerusakan alam yang hebat dan penderitaan umat manusia yang dalam. Dan bencana ini sekarang sedang menimpa umat manusia, sebab dunia dipimpin oleh para durjana dengan konsep tata dunia yan gmenghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.


Kemanakah engkau wahai generasi rahmatan lil `alamin, yang mampu memimpin kami menuju ridlo Allah dengan Akhlak dan keteladanan.