TABAH

MENYIKAPI KEHIDUPAN

Abu Hakam


Setiap yang diperintahkan maupun yang dilarang oleh Allah, pasti mengandung hikmah dan bermafaat bagi keberlangsungan hidup manusia secara keseluruhan. Seperti kewajiban shalat, meskipun perintah tersebut bersifat pribadi, setidaknya dari sisi lahiriyah hanya merupakan interaksi antara pribadi dengan tuhannya, tetapi apabila dicermati akan tampak hikmah yang terkandung dalam perintah shalat tersebut ternyata ditujukan menghasilkan implikasi social di luar shalat yang terangkum pada keselamatan orang lain dari perbuatan buruk orang yang melakukan shalat.


Demikian juga dengan kehidupan ini. Seseorang mukmin yang menggunakan intuisi keimanannya, maka ia akan selalu berfikir bahwa kehidupan ini tidaklah berhenti di dunia, tetapi juga akan berakhir dengan kehidupan akhirat yang lebih penting dan lebih panjang jangkauan waktunya. Karena di akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.


Pepatah Arab mengatakan “orang yang bijaksana ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mengutamakan amal untuk kehidupan setelah ia mati.”


Demikian pentingnya kebijaksanaan dan pemahaman terhadap hakekat kehidupan ini akan menjadikan hidup manusia tidak sia-sia, bahkan mampu memberikan kemanfaatan yang lebih banyak bagi orang lain. Namun idealitas makna kehidupan tersebut ternyata tidak sejalan bahkan kadang berbanding terbalik dengan realitas kehidupan masyarakat. Hal ini dapat ditinjau dari kecenderungan-kecenderungan manusia, yang secara garis besar terbagi kedalam dua kecenderungan.


Dalam tinjauan psikologi, ahli psikoanalisis menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia terbagi menjadi dua macam kecenderungang : yaitu homo celebro dan homo abdominalis. Kedua tipologi inilah yang mewarnai kehidupan di dunia ini. Celebro berarti akal dan atau hati nurani. Homo celebrolis ialah kecenderungan yang menganut paham, bahwa ukuran keberhasilan hidupnya ialah apabila ia mampu memberi manfaat bagi orang lain dan lingkunganya. Orang dalam katagori ini bersemboyan agar dirinya dapat bermanfaat bahkan berperan dalam kehidupan masyarakat. Kecenderungan yang kedua ialah homo abdominalis. Abdominalis berarti perut. Kelompok ini menjadikan kepemilikan / kekayaan sebagai ukuran keberhasilan pribadi. Dengan demikian tipe ini berpedoman bahwa parameter kesuksesan ialah apabila secara lahiriayah memiliki harta banyak, kedudukan yang tinggi maupun status social lain yang bersifat assesoris, seperti kepemilikan rumah, mobil, maupun harta benda lainnya. Dalam batas tertentu, keinginan untuk memiliki harta, pangkat, jabatan dan kedudukan adalah sifat dasar manusia, namun demikian apabila kecenderungan tersebut telah menjadi ukuran keberhasilannya, maka akan sangat berbahaya dan merugikan banyak pihak. Hai ini terjadi karena kecenderungan tersebut telah mengalahkan akal dan hati nuraninya sehingga akhirnya cenderung menghalalkan segala macam cara dan melupakan norma-norma social, bahkan agama.


Saat ini tampaknya sifat dan kecenderungan manusia yang suka terhadap kemegahan dan kemewahan duniawi seraya melupakan norma-norma susila dan agama merupakan fenomena yang lebih menonjol dibansing dengan keinginnan seseorang untuk berguna dan memberi manfaat kepada sesame. Lihatlah betapa banyak orang yang dalam kehidupannya hanya memburu kemuliaan yang diukur dengan pemenuhan kebutuhan perut dan gemerlap kemewahan duniawi. Hal ini sesuai dengan prediksi nabi Muhammad 15 abad yang lalu, yang menyatakan ; “ Akan dating suatu masa, dimana perhatian utamanya ialah urusan perut, kemuliaan diukur dengan kepemilikan harta, perhatian (qiblat) mereka adalah wanita dan uang menjadi agamanya.” (HR. Ad-Dailamy & Thabraniy)


Dari hadist ini dapai diketahui bahwa kecenderungan manusia yang lebih mementingkan kemewahan duniawi telah menjadi fenomena umum dan melalaikan norma-norma susila dan agama. Maraknya korupsi, perampokkan, pencurian, palacuran, dan fenomena social lainya adalah bukti kebenaran hadist tersebut.


Hal ini menunjukan bahwa hakekat pembinaan kehidupan beragama sampai saat ini belum berhasil, kalau tidak boleh dikatakan gagal. Agama hanya merupakan formalitas dan ritual, dan belum menjadi akhlak manusia. Ajaran agama hanya dilaksanakan terbatas pada masjid dan ruang-ruang terbatas lainnya, dan tidak merasuk kedalam sanubari pemeluknya sehingga mempu mewarnai kehidupan mereka. Ketika ditanya olah seseorang tentang ajaran islam yang paling berat dan paling ringan, Rasulullah menjawab ; Sebagian ajaran islam yang ringan adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan persaksian bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Adapun ajaran yang berat adalah menjaga dan menunaikan amanah, sesungguhnya tidak disebut beragama orang yang tidak amanah, tidak shalat dan tidak zakat.” (HR. Al Bazzar)


Menjaga kepercayaan (amanah) mempunyai cukupan yang sangat luas, mulai dari lingkup terkecil didalam keluarga, pekerjaan, jabatan, dan masyarakat sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Integritas moral terhadap pengemban kepercayaan inilah yang sekarang masih kronis malanda masyarakat dan bangsa kita.


Pejabat dan pemegang amanah tidak lagi menjadikan jabatan yang dipercayakan kepadanya sebagai sebuah tanggung jawab yang harus ditunaikan melainkan lebih menganggap jabatan, pangkat, dan kedudukan yang diperoleh adalah hasil kerja keras dan usahanya sendiri, sehingga ia menganggap semua adalah miliknya sendiri. Dari silah awal korupsi dan penyimpangan terjadi. Dalam sebuah khutbah, Abu Bakar Ash Shiddiq menginggung kecenderungan buruk manusia, khususnya para pejabat ; “ Harta Negara menjadi rebutan, kepercayaan/ amanah rakyat/Negara dilupakan dan tidak terurus dan enggan membayar zakat karena merasa kehilangan.” (Atsar Riwayat At Tirmidzzi)


Demikianlah, betapa kecenderungan , manusia untuk mementingkan diri sendiri mengejar kesuksesan diri dengan mengesampingkan atau bahkan menyikut orang lain telah menjadi kecenderungan umum bangsa ini, oleh karena itulah sudah saatnya kita melakukan intropeksi dan mawas diri untuk menjadi seorang yang mampu memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan mengikis dan mengandalikan kecenderungan kenikmatan sesaat yang lebih bersifat assesoris duniawi.


Marilah kita kembali kepada hadits nabi yang sangat masyhur ; “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia yang lain.”

Apabila kita cermati hadits ini, maka sebetulnya dalam kehidupan ini akan terjadi harmoni dan keselarasan dalam masyarakat sehingga akan terwujud masyarakat yang tenang dan terntram lahir dan batin. Tidak terjad penyimpangan-penyimpangan dan adanya pihak-pihak yang dirugikan. Apabila kita mampu menyikapi kehidupan ini dengan baik, maka kebahagiaan dunia akhirat kita raih, semoga . . . .