RIYA` DALAM SHALAT



“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS; Al Bayyinah:5)


Allah memang talah memarintahkan kepada kita semua untuk mengesakan Allah dengan lurus (benar). Namun kenyataan yang sering kita alami ialah betapa sulit beribadah dengan lurus, tulus, dan ikhlas sebagaimana yang dikehendaki. Hal itu tentu sangat terkait dengan kurang bersihnya hati kita.


Ada beberapa penyakit hati yang dapat mempengaruhi kualitas ibadah dan pengabdian kita kepada Allah, salah satunya ialah penyakit riya`.


Riya` adalah memperhatikan suat amal ibadah kepada orang lain supaya, dilihat, dihormati dan disanjung. Hal ini bisa terjadi dalam berbagai macam aktivitas keseharian kita dalam beramal maupun dalam ibadah. Diantaranya ialah riya` dalam shalat, riya` dalam bersedekah dan lain sebagainya.




Riya` dalam Shalat


Dalam QS Al Ma`un ayat 4-7. telah disampaikan tentang betapa orang yang sudah shalat sekalipun, ternyata masih dapat merugi. Hal itu bisa terjadi, disamping karena lalai melaksakan shalat, lalai mengamalkan esensi ibadah shalat, ruginya orang shalat ternyata juga disebabkan karena mengerjakan shalat dengan tujuan agar dilihat dan dipuji orang. Dengan demikian hal ini dangat terkait dengan betapa pentingnya kedudukan niat dalam shalat. Padahal Allah secara tegas memerintahan agar melakukan ibadah dengan niat yang lurus dan ikhlas.


Membenarkan dan meluruskan niat memang bukan sesuatu yang mudah, karena hal ini sangatlah subyektif dan tidak dapat diukur. Niat bukanlah sekedar lafal tertentu yang kita ucapkan setiap akan melakukan shalat. Lebih dari itu, niat adalah percikan cahaya hati, karnanya ia ada dihati masing-masing dan hanya dirasakan oleh yang bersakutan. Namn demikian, meski tidak dapat diukur secara pasti, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi indikasi yang dapat menjadi tolok ukur menilai kualitas ibadah shalat kita masing-masing, diantaranya ialah ;


  1. Membaguskan Bacaan


Membaguskan bacaan shalat merupakan perintah dan tauladan yang dicontohkan oleh nabi. Dengan demikian melaksanakan shalat dengan bacaan yang bagus semestinya kita lakukan disetiap shalat yang kita lakukan. Yang kemudian menjadi masalah ialah adanya kecenderungan pada dirri kita, bahwa membaguskan bacaan hanyalah tepat dilakukan apabila kita mengerjakan shalat berjama`ah dan kita menjadi imam. Sehingga dengan pengertian ini terjadi pemahaman yang keliru; kalau begitu bila sendirian dan tidak menjadi imam, maka tidak perlu membaguskan bacaan.


Hal ini terjadi, salah satunya karena kekeliruan pemahaman kita terhadap terminologi “membaguskan bacaan”. Kita sudah terlanjur menganggap bahwa membaguskan bacaan ialah membaca ayat-ayat Al Qur`an dengan suara yang bagus dan merdu mendayu. Padahal sebetulnya, titik berat bagusnya bacaan, bukan sekedar merdunya suara, melainkan kesesuaian dengan kaidah-kaidah bacaan yang benar. Sebagaimana firman Allah : “Dan bacalah Al Qur`an dengan tartil”


Termasuk dalam hal ini ialah, kesesuaian bacaan dengan al ahkam al qira`ah (hukum-hukum bacaan) yang mencakup makharijul huruf (tempat keluarnya huruf/suara), maad (panjang dan pendeknya bacan), serta al waqfu wal washl (kapan dan dimana harus terus atau berhenti) dalam membaca Al Qur`an.


  1. Memanjangkan Shalat


Memanjangkan shalaat juga merupakan sunnah nabi. Betapa sering kita mendengar dan atau membaca riwayat yan gmenerangkan betapa panjangnya shalat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, dan betapa bagus baxaan Al Qur`an dalam shalat tresebut. Banyak riwayat menyebutkan hal itu. Sekedar contoh ialah pernyataan Istri Nabi, Aisyah ra. ketika ditanya tentang sifat shalat Nabi, ia menjawab “jangan ditanya betapa bagus dan panjangnya shalat Nabi”. Atau riwayat lain yang menyatakan bahwa dalam shalatnya , Nabi sering membaca satu surat panjang dalam setiap rakaat yang ia tunaikan. Yang kemudian menjadi kecenderungan kita saat ini ialah, bagus dan panjangnya (bacaan) shalat kita, biasanya hanya terjadi –sekali lagi – ketika sedang bersama dan berjama`ah. Namun ketika kita sedang shalat sendiri, jangankan untuk memperpanjang (waktu) ketika melaksanakan shalat, terkadang bahkan terhadap hukum bacaanpun juga tidak pernah kita perhatikan, apakah sesuai dengan kaidah bacaan atau tidak ?


  1. Menggugurkan Kewajiban


Diantara kita masih banyak yang sekedar memahami shalat sebagai sebuah kewajiban dan belum sampai pada derajat kebutuhan. Kondisi ini mengakibatkan bahea shalat yang kita kerjakan lebih berorientasi sebagai sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Karena kita sudah tahu bahwa shalat adalah sebuah kewajiban, sebagaimana manusia lainnya, kita juga melaksakan shalat bersama orang lain untuk sekedar memenuhi kecenderungan hati, yaitu rasa malu bila tidak mengerjakan shalat padahal orang lain sudah melaksanakannya. Lalu kita ikut mengerjakan shalat bersama orang lain agar diketahui bahwa kita juga telah melaksanakan kewajiban shalat sebagaimana yang mereka kerjakan. Perasaan malu tidak shalat memang bisa menjadi titik awal bagi kita untuk memulai kebiasaan menunaikan shalat. Namun hal itu tidak boleh berlarut bahkan berhenti disitu. Kita harus memperbaiki niat kita dari rasa malu itu menjadi sebuah kesadaran untuk memenuhi panggilan Allah sampai derajat yang tertinggi, yaitu sebagai kebutuhan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.


Dari tiga hati tersebut, kita menyadari bahwa ternyata masih banyak diantara kita yang masih mempunyai kecenderungan riya` dalam melaksakan ibadah shalat. Bila selama ini tidak kita sadari, sekaranglah saat kita meluruskan ibadah kita sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah.




Memaknai Isra` Mi`raj


Ibadah shalat disyari`atkan ketika peristiwa Isra` mi`raj Nabi Muhammad saw. Rasulullah sangat mengetahui keadaan dan kemampuan umatnya, karena itulah baliau menawar kewajiban shalat dari 50 kali hingga –hanya-5 (lima) kali sehari semalam. Dalam konteks kemampuan negoisasi, hasilakhir ini menunjukkan kepiwaian rasulullah dalam bernegoisasi yang dilandasi dengan dasar-dasar yang realistis, rasional, dan strategis. Dengan demikian, sebagai umat Nabi Muhammad saw, semestinya hasil negoisasi yang berupa kewajiban shalat 5 (lima) waktu itu dapat kita laksakan dengan sebaik-baiknya. Karena orang yang mengaku umat Muhammad, ia harus konsisten mengikuti semua ajaran Beliau, satu diantaranya adalah sifat amanah, yang diwujudkan dalam konsistensi melaksakan isi/ hasil negoisasi Rasulullah dengan Allah tersebut.


Tidak ada alasan sedikitpun yang dapat menjadi pembenar bagi kita untuk mungkir dari kewajiban tersebut, karena secara realistis dan rasional shalat lima waktu tidak akan menghabiskan waktu yang telah Allah berikan kepada kita, dan tidak akan menguras kemampuan fisik kita sehingga mengganggu aktifitas kehidupan lainnya.


Memaknai Isra` Mi`raj tahun ini dapat dirumuskan dalam beberapa tahapan berikut;


1. mulai mengerjakan shalat, bagi kita yng selama ini belum mengerjakan shalat,

  1. memenuhi kewajiban shalat lima waktu, bagi kita yang selama ini belum dapat memenuhi,
  2. mengerjakan shalat tepat waktu, bagi kita yang selama ini belum dapat menepatinya,
  3. membaguskan bacaan, bagi kita yang selama ini belum membacanya sesuai dengan kaidah bacaan Al Qur`an yang benar,
  4. menambah panjang shalat, bagi kita yang selama ini masih melakukan shalat dengan serampangan,
  5. membaguskan shalat itu sendiri, dengan memenuhi dan meningkatkan kualitas tuma`ninah kita,

7. meluruskan niat, bagi kita yang selama ini belum lurus niatnya,

  1. meningkatkan dan mengubah tujuan dari sekedar memenuhi kewajiban menambah kebutuhan mendekatkan diri kepada Allah,
  2. mengamalkan seluruh nilai dan ajaran yang terkandung dalam bacaan dan rukun shalat itu kedalam setiap gerak langkah kehidupan kita.


Dengan demikian, semoga kita tidak termsuk orang yang sudah mengerjakan shalat tapi merugi hanya disebabkan oleh kecenderungan kita beribadah untuk dilihat dan dipuji orang sehingga tidak ada yang kita dapatkan dari dzikir yang kita lakukan kecuali hanya mendapatkan sedikit manfaat. Sebagaimana firman Allah;


“Mereka hanya menunjukkan (kepada) manusia, dan tidak berdzikir (ingat) kepada Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (QS; An Nisa:142)


Sebagai penutup, penulis menekankan bahwa tulisan ini sengaja dibuat untuk nenggugah kembali kesadaran kita dan untuk mengevaluasi kembali ibadah shalat yang telah bertahun-tahun kita laksanakan. Sudahkah kita memaknai dengan benar . .. ? Semoga . . !