KISAH TELADAN

PENGEMIS DAN PUTRA MAHKOTA

Oleh K.H. Abdurrahman Arroisi

Putra mahkota sedang naik kuda keliling Baghdad, keluar masuk ke daerah-derah plosok yang belum pernah dikunjunginya. Di sudut sebuah pasar, ia terharu melihat seorang pengemis buta menadahkan tangan meminta sedekah. Di sebelahnya ditunggui oleh seorang gadis tanggung, barangkali anaknya.

Putra Mahkota yang berpakaian seperti rakyat biasa itu turun, dan menyodorkan sejumlah uang yang diterima oleh gadis itu dengan penuh rasa terima kasih. Ketika ia berbenturan pandang dengan anak pengemis tersebut, tiba-tiba hatinya bergetar melihat betapa cantiknya gadis miskin itu.

Begitu sampai di istana, ia langsung menghadap ayahandanya, Sang Raja. Dengan wajah ketakutan ia berkata, “Ayah. Saya ingin . . .”

Raja keheranan. Apa gerangan sebabnya Putra Mahkota begitu picat mukanya. “Ada apa anakku. Katakan terus terang.”

“Apakah Ayah tidak murka?” tanya Putra Mahkota ragu-ragu.

“Asalkan tidak berniat buruk, pasti aku takkan marah.” Memang raja Baghdad waktu itu terkenal bijaksana dan penyayang. Tentu saja kepada putranya akan lebih sayang lagi

“Bukankah Ayah menginginkan saya berumah tangga?”

“Ya. Karena umurmu sudah cukup. Dan engkau harus punya keturunan.”

“Kebetulan saya sudah punya calon istri sekarang jawab Putra Mahkota kemalu-maluan.

Raja pun tertawa gembira. “Bagus, bagus. Siapakah gadis yang beruntung itu?”

Dengan suara terantuk-antuk, Putra Mahkota menjelaskan, “Dia adalah anak seorang pengemisbuta yang selalu menadahkan tangan di pojok pasar.”

Raja terbelalak kaget. Ia bingung. Bagaimana mungkin seorang Putra Mahkota ingin menikah dengan seorang anak peminta-minta? Tapi Raja cukup bijaksana, tidak gampang mengumbar kemarahannya. Dengan lemah lembut ia bertanya, “Apakah pilihanmu itu sudah kau pikirkan masak-masak? Tidakkah engkau bakal menyesal kelak?”

“Tidak, Ayah. Saya sudah bertekad, jika tidak dengan gadis itu, saya takkan beristri selama-lamanya,” ujar Putra Mahkota dengan mantap.

Karena barangkali sudah demikian takdirnya, Raja lalu mengutus para punggawa besarnya untuk meminang si gadis. Sudah tentu pengemis beserta anaknya terkejut bukan main. Mimpi apa mereka, sampai mendapatkan kehormatan seagung itu?

Tapi ayah si gadis bukan peminta-minta yang serakah. Ia bertanya kepada para utusan Raja, “Kerja dimana anak Raja itu? Sebab saya tidak rela saya mempunyai menantu yang tidak memiliki pekerjaan.”

“Dia Putra Mahkota. Dia bakal jadi raja. Jadi dia tidak bekerja apa-apa,” jawab para utusan Raja dengan mendongkol.

Pengemis itu lantas bertanya kepada anaknya, “Bagaiman pendapatmu anakku?”

Si gadis menyahut lantang, Tidak. Saya baru mau menjadi istri Putra Mahkota kalau ia mempunyai pekerjaan tertentu. Dan karena saya kira tangannya halus sekali, yang cocok buatnya mungkin pekerjaan menganyam permadani.”

Mendengar laporan para punggawanya tentang permintaan yang aneh dari anak pengemis itu, Raja tidak marah. Ia segera meneruskannya kepada Putra Mahkota, apakah hendak dilanjutkan keinginannya mempersunting gadis itu atau akan dibatalkan.

Dasar sudah kadung cinta. Putra Mahkota pun mulai hariitu belajar memintal benang untuk merajut permadani. Setelah tiga bulan, ia mengirimkan hasilnya kepada anak perempuan pengemis itu.

Alangkah gembiranya si gadis, dan alangkah gembiranya si pengemis. Begitu pula tidak terlukiskan kebahagiaan Raja dan Putra Makota. Tatkala akhirnya selama empat puluh hari empat puluh malam pesta perkawinan Putra Mahkota diselenggarakan. Seluruh rakyat ikut bersuka cita seba ternyata Raja mereka amat bijaksana, berkenan mengangkat kaum rendah menjadi penghuni istana sebagai permaisuri Putra Mahkota.

Namun kecerahan itu tidak berlangsung lama. Pada suatu malam yang gelap, sejumlah penyamun menyantroni istana dan menculik Putra Mahkota, dibawa ke tempat persembunyian mereka.

“Engkau akan kami bunuh kalau ayahm tidak mau menebusmu dengan uang sebesar yang kami minta,” ucap kepala penyamun dengan bengis.

Tanpa gentar Putra Mahkota menjawab, “Ayahku bukan orang yang cengeng. Ia takkan mau membayar sepeserpun.”

“Kalau benar begitu, akan kami kirimkan butir kepalamu sebagai hadiah.”

“Silakan. Aku tidak takut, “ ucap Putra Mahkota

“Aku masih punya adik yang bakal menggantikan kedudukanku. Tapi kalau kalian mau uang, aku punya jalan.”

Yang dituju para penyamun itu memang uang, bukan nyawa Putra Mahkota. Oleh sebab itu mereka pun tertarik untuk mendengarkan usul Putra Mahkota.

“Bagaiman jalan itu ?”

“Ayahku menyukai permadani yang indah. Dan akku bias membuatnya. Sesudah selesai, kalian jual kepada ayahku, pasti dibayarnya dengan harga mahal.”

Mereka setuju. Dan semenjak hari itu, Putra Mahkota mulai mengayam permadani. Sesudah dua minggu bekerja keras, akhirnya permadani yang betul-betul indah itupun selesai dirajutnya.

Dengan sangat gembira, kepala penyamun menyuruh seorang anak buahnya agar membawa permadani itu ke istana dan menjualnya kepada Raja.

Yang dikatakan Putra Mahkota ternyata bukan bual kosong belaka. Raja bersedia membelinya sejumlah harga yang ditawarkan. Tetapi sebelum dibayar, istri Putra Mahkota yang cerdik itu merasa curiga memperhatikan permadani itu. Dan setelah diamati dengan cermat, ia bias menandai, yang membuatnya pasti sang suami. Maka ia berbisik kepada raja, “Ayahanda yang bijaksana. Permadani ini hasil anyaman suami saya.”

Raja terkejut. “Oh ya ? Dimanakah dia?”

Istri Putra Mahkota kembali mengawasi lebih teliti lagi. Di tengah-tengah permadani, ia membaca sebuah pesan, bahwa suaminya dikurung oleh para penyamun. Pesan iu juga dilengkapi dengan peta tempatnya ditawan.

Maka secara diam-diam, Raja memerintahkan sepasukan tentara tanpa pakaian seragam untuk menggerebek tempat itu dan menangkap semua penyamun yang sudah lama meresahkan penduduk, dan membebaskan Putra Mahkota.

Raja sangat bangga kepada menantunya yang cerdik itu, dan kepada putranya yang juga cerdik. Terbukti kepandaian seseorang tidak bias diukur dari kedudukan dan asal-usulnya. Orang rendah pun bias mampunyai otak yang berlian.

(30 Kisah Teladan 7)