CINTA YANG DILARANG

Dua Penyakit Yang Berbahaya

Cinta Dunia Dan Takut Mati

" Akan datang satu masa, umat lain akan memperebutkan kamu, ibarat orang- orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat bertanya :"Apakah lantara waktu itu jumlah kami sedikit, ya Rasullullah ?" Beliau menjawab :"Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu sangat banyak (mayoritas), tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas air bah. Dan didalam jiwamu ada kelemahan jiwa. Sahabat bertanya : "Apakah yang dimaksud kelemahan jiwa, ya Rasullullah ?" Beliau menjawab : " Yaitu cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud)

Kondisi Umat Islam Masa Kini

Apabila kita tekun membaca Al-Qur`an, banyak kita temukan ayat-ayat yang menyebutkan keunggulan dan kehebatan umat islam dibanding dengan umat yang lain. Misalnya umat islam itu adalah umat yang satu (ummatan wahidah) yaitu kesatuan yang diikat oleh satunya Tuhan, Kitab, Rasul, kiblat, dan ibadah. (Q.S. 23 : 52-54) Umat islam ini umat yang siap menjadi penengah dan menjadi saksi (parameter) bagi umat-umat yang lain (Q.S. 2:143). Umat islam seharusnya juga menjadi umat yang terbaik. (Q.S. 3: 10).

Bahkan umat islam itu seharusnya adalah umat yang paling kuat dan paling tangguh dibandingkan dengan umat-umat yang lain, sebagaimana dilukiskan Allah dalam firman-Nya :

"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu`min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seijin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. 8:65-66)

Ayat tersebut menerangkan bahwa idealnya satu orang mu`min itu mampu mengalahkan sepuluh orang kafir, dua puluh orang mu`min mengalahkan dua ratus orang kafir atau seratus orang mu`min mampu mengalahkan seribu orang. Minimal, selemah-lemahnya orang mu`min mampu bertahan, satu mu`min mampu mengalahkan dua orang kafir. Seratus mu`min mampu mengalahkandua ratus orang musuh atau seribu orang mu`min mampu menundukkan dua ribu orang musuh.

Namun jika kita perhatikan kondisi umat islam sekarang, yang terjadi malah sebaliknya. Kita menjadi umat yang semakin terpecah belah, yang lemah, rendah, terjajah dan selalu kalah.Jangankan mampu bertahan pada posisi yang lemah, yaitu dibanding dua. Seekarang secara Global, seribu kalah dengan yang sepuluh, seribu lima ratus juta umat islam di seluruh dunia ternyata tidak berdaya dengan Yahudi yang hanya sekitar sepuluh juta. Bahkan secara nasional, umat islam indonesia yang 90 %, ternyata tidak berdaya dengan umat nasrani yang hanya 5 %.

Kondisi yang sangat memprihatinkan itu sudah diisyaratkan oleh Rasullullah saw. dalam sabdanya yang lain :

"Akan datang pada manusia suatu zaman, dikala itu umat islam tidak tinggal melainkan namanya, Al-Qur`an tidak tinggal melainkan tulisannya, ,masjid-masjidnya bagus namun sepi dari petunjuk,ulama`-ulama`nya termasuk manusia yang paling jahat yang berada di kolong langit, karena dari mereka akan timbul fitnah dan akan kembali kepadanya." (HR. Baihaqi).

Sekarang ini kita melihat islam tinggal namanya. Artinya, Islam hanya berhenti pada formalitas tetapi jauh dari realitas. Banyak orang yang mengaku muslim tetapi justru phobi (takut) kepada syari`at islam. Nama-nama mereka islami tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai islam. Partainya berazas islam atau berbasis muslim tetapi tidak ada bedanya dengan partai-partai lain. Sekolah-sekolah yang berlabel islam ternyata tidak dikelola secara islami.

Al-Qur`an tinggal tulisannya. Artinya Al-Qur`an hanya dicetak, dijual, dibeli tetapi bukan untuk dibaca. Al-Qur`an hanya dibunyikan tanpa difahami ma`nanya bagaikan untaian mantera-mantera. Al-Qur`an dilombakan, diagung-agungkan siapa yang paling merdusuaranya. Tetapi justru dicaci-maki, diejek, disingkirkan, dipenjara, bahkan dibunuh bagi siapa saja yang berusaha mengamalkan ajarannya.

Kita melihat masjid-masjid megah dan mewah tetapi tidak mendatangkan hidayah dan sepi dari jamaah. Para pengurus masjid hanya sibuk membangun fisik tetapi lupa memakmurkannya. Mereka malu, resah, dan merasa bersalah apabila ubinnya sudah tidak licin, karpetnya usang, catnya sudah tidak cemerlang. Tetapi mereka tenang-tenang saja apabila khotibnya membuat jamaah mengantuk dan tidak mendapat petunjuk. Mereka tidak merasa bersalah apabila yang muda-muda mengeluh betapa sulitnya mencari khotib Jumat yang berkualitas, penceramah Ramadhan yang handal, pengisi pengajian rutin yang bisa mengundang jamaah, mencari dana untuk mengelola TPA dan lain-lain. Masjid telah menjadi "Kuburan Cina" mewah dan indah dari luar tetapi hanya sebagai tempat yang sudah mati.

Kita sudah sulit untuk menutup mata dan telinga dari perilaku para tokoh yang bergelar ulama`, kyai, dan ustadz yang mengecewakan umat. Memang tidak seluruhnya, tetapi nampaknya yang jahat lebih popeler ketimbang yang istiqomah. Kita sulit mencari tokoh agama yang bisa diteladani pribadinya, keluarganya, organisasinya, apalagi jika mereka sudah perpartai dan berpolitik praktis. Nampaknya memfitnah, menghasut, menipu, dan berkhianat terhadap amanah dab janjinya sudah menjadi sesuatu yang dianggap wajar-wajar saja. Na`udzubillahi min dzalika".

Kondisi umat Islam seperti tersebut tentunya terjadi karena berbagai macam sebab. Tetapi penyebab yang paling pokok dan paling berpengaruh adalah adanya penyekit "WAHN" yaitu "CINTA DUNIA" dan "TAKUT MATI".

CINTA DUNIA

Pada dasarnya umat islam oleh Allah tidak dilarang untuk mencintai hal-hal yang bersifat duniawi. Mencintai hal-hal yang sifatnya materi adalah fitrah dari manusia itu sendiri. (QS. 3:14), untuk hal ini Allah menjelaskan dalam firman-Nya :

"Hai anak adam, pakailah pakainmu yang indah disetiap mamasuki masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Katakanlah : "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya atau siapakah yang mangharapkan rezeki yang lebih baik ?" Katakanlah semua : "Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khususnya untuk mereka saja dihari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui."

Katakanlah : "Tuahnku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nempak maupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mengharamkan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menemukan hujjah untuk itu dan mengharamkan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak diketahui." (QS. 7:31-33)

Keimanan seseorang akan selalu mendorong untuk sukses dan bahagia di dunia dan di akhirat (QS. 2:201). Memahami hakekat dunia dan akherat yang berbeda, dunia ini baik tetapi akherat lebih baik, dunia itu lama tetapi akherat itu adalah abadi (QS. 87:16-17). Bahkan dunia itu penting, nemun akherat jauh lebih penting. Dunia itu mungkin dan akherat itu pasti. Oleh karena itu logika hidup orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir ( QS; 2:8-9) adalah mengejar akherat tidak melupakan hal-hal yang bersifat duniawi. Mereka mengejar hal-hal yang pasti akan dimsuki, dinikmati dan abadi (akherat) tetapi tidak melupakan dunia uang yang sementara tidak ada kepastiannya.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan mu dari kenikmatan duniawi." (QS; 4:78)

Sikap hidup yang benar, " bersungguh-sungguh mencari akherat dan tidak lalai terhadap dunia" tidak hanya menguntungkan pribadi kita saja, tetapi juga akan memakmurkan bumi dan menguatkan kedudukan islam dankaum muslimin. Sebailiknya mencintai dunia secara berlebih-lebihan akan menjadikan prilakunya menjadi budak dunia yang hanya sibuk mencari, menumpuk dan menjaga serta merawat, tahu-tahu mati atau sakit komplikasi, sementara belum sempat menikmati apa yang dimiliki. Sementara itu kehidupan yang sejati, hakiki, dan abadi tidak pernah dipersiapkan lagi. Allah, Rasul-Nya jihad di jalan-Nya untuk meraih surga_Nya tidak lebih dicintai dari hal-hal yang disekitarnya. Itulah hal-hal yang menghancurkan dirinya, dunianya, dan merobohkan agamanya serta menghantarkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka.

TAKUT MATI

Kematian adalah sebuah kepastian yang misterius, artinya pasti terjadi tetapi kita tidak pasti kapan terjadinuya. Tidak seorangpun yang dapat menghindar dari kematian, tidak pula tahu persis kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimana kematian itu menghampirinya. Setiap yang berjiwa pasti mati (QS;21:35). Jika kematian sudah datang waktunya (QS;3:145) tidak dapat diajukan ataupun ditunda (QS;63:11) dan tidak mungkin bisa dihindari (QS;62:8).

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" (QS;4:78)

Di dalam aqidah, kematian bukan termasuk hal-hal yang dapat diikhtiyarkan. Kematian termasuk hal yang berkaitan dengan "apa yang dikehendaki Allah terhadap kita". Kapan dimana dan ketika sedang berbuat apa, ketika kita mati itu sepenuhnya menjadi urusan Allah, bukan urusan kita. Oleh karena itu fenomena takut mati adalah suatu hal yang aneh bagi orang-orang yang beriman.

Bagaimana tidak aneh, padahal pada dasarnya setiap orang yang beriman ingin berten\mu dengan Allah, percaya kepada kehidupan akherat dan ingin memasuki surga yang dijanjikan. Untuk mencapai cita-cita tersebut mestinya harus memenuhu syarat. Diantara sekian banyak syarat masuk surga adalah mati. Meskipun kita sudah beribadah, berjihat, mustahil bisa masuk surga sebelum kita mati. Adalah sebuah sikap kontroversial bila ingin masuk surga sementara kita takut mati.

Takut pada kematian juga termasuk fenomena yang tidak realistis. Ada sebuah teori "keberanian itu tidak mendekatkan kepada kematian, sedangkan kepengcutan/ketakutan itu tidak menjauhkan dari kematian". Dalam kenyataan banyak tentara yang berani di medan

perang justru mati di atas ranjang. Pengendara motor yang ceroboh dan takut mati malah selamat, sementara yang berjalan hati-hati dan sudah ketepi malah menjadi korban duluan.

Jika umat islam sudah terjangkit penyakit takut mati, apalagi kalau sudah menjangkit para tokoh dan aktivis dakwahnya, maka jelas nasib umat islam akan mengalami kekalahan dan kelemahan. Jika prinsip "Hidup mulia atau mati syahid" sudah tidak dimiliki oleh kaum muslimin, lantas dengan kekuatan apa islam ditegakkan dan kaum muslimin dilindungi.

(Oleh Ust. Didik Purwodarsono dalam bukunya Patungan Masuk Surga)