CERITA ANAK SMA, TENTANG DUNIANYA

KENANAGAN KELAM

Hujan lebat mengguyur Kota Biru. Suara guntur menggelegar membahana memecah keheningan malam itu. Sesosok laki-laki separuh baya tengah termenung menatap sebuah pistol tua yang menggantung di tembok tengah penyekat kamarnya. Anto tengah mengenang masa lalu, masa diwaktu ia masih anak-anak. Masa anak-anak yangn tak akan pernah ia lupakan begitu saja, masa yang amatlah kelam dalam kehidupannya. Masa dimana ia harus ditinggal pergi oleh bapaknya, ditinggal pergi untuk selama-lamanya.
Masih terngiang pesan bapaknya, “To, jaga ibumu baik-baik”. Itulah pesan terakhir yang ditinggalkan bapaknya sesaat sebelulm sebutir peluru menembus jantungnya.

Tap…tap… terdengar suara derap sepatu mendekati pintu rumahnya. Anto, anak berusia 7 tahunan sedang duduk duduk di kursi ruang tamu rumahnya.
Prak………terdengar suara pintu rumah di dorong paksa oleh sekelompok orang bertopeng, semuanya berpakaian hitam, bersepatu boot layaknya seorang tentara.
“Hei, bocah dimana bapakmu ?” salah seorang dari mereka bertanya sambil membentak Anto. Kelihatannya ialah pemimpin kawanan penjahat itu.
Anto hanya diam karena takutnya.
“ Tiba-tiba salah seorang lagi mendekati nya, dengan mengeluarkan sangkur ia bertanya, “Dimana bapakmu yang bodoh itu ? cepat katakan, kalau tidak sangkur ini akan menembus perutmu!”
“Anto……..ada apa nak? Mereka ini siapa?” ibu Anto yang tengah memasak di dapur keluar dengan kagetnya.
Ibu Anto yang sudah tua itu mendekap tubuh Anto.
“Siapa kalian?” tanyanya sambil diiringni isak tangis ketakutan.
“Kamu tak perlu tau siapa kami, yang jelas serahkan suamimu pada kami, karena ada tugas yang harus ia kerjakan!”

Menurut cerita ibunya, ayah Anto ternyata seorang yanng amat jenius, sehingga ia diincar oleh banyak orang untuk dimanfaatkan otaknya. Suatu ketika, ketika ia sedang mengadakan suatu penelitian, ia menemukan sebuah zat yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar bom. Namun karena takut melanggar peraturan pemerintah dan takut jika barang temuannya digunakan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab maka ia pun melaporkan hasil temuannya itu.

“Hei, punya kuping ga sih ? jawab di mana suamimu !” bentak mereka lebih keras.
Tanpa disadarinya, seorang perampok menampar wajah ibu Anto.
Mereka pun semakin ketakutan.
“Bu… mana Bapak bu.? Kok ga datang datang ?” bisik Anto titengah ketakutanya.
“Bapak baru kesawah nak. Sabar ya nak, semoga bapak segera datang menyelamatkan kita!” bisik ibunya sambil menenang kan hati Anto.
“Baik, kalau tidak mau menjawab. Geledah rumah ini, cepat!” perintah si bos perampok itu.

Hampir sepuluh menit mereka mengobrak abrik seluruh isi rumah. Namun yang mereka cari belumlah nampak batang hidungnya. Sementara itu Jodi ayah Anto tengah berada di perjalanan pulang dari sawah bersama teman dekatnya. Seratus meter dari rumahnya ia melihat beberapa orang sedang menjaga rumahnya. Jodi turun .
“Celaka, Aku Jhon! Mereka sudah tau tempat tinggalku.” Gumannya
“Mereka siapa mas?” tanya Jhoni, teman akrab Jodi itu.
“Merekalah para penjahat yang dulu pernah tertangkap aparat kepolisian, karena ketahuan melakukan perjobaan pengeboman di Kota Biru.” Jawab Jodi yang mulai sadar akan bahaya yang mengancam diri dan keluarganya.

Jodi dan Jhoni pun berlahan mendekati rumahnya. Dengan penuh kesiagaan layaknya seorang angkatan perang, yang memang dulu pernah ia dalami, ia mencoba untuk masuk rumah. Satu, dua penjaga yang berkeliaran di depan rumahnya mulai ia taklukkan, tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia merampas senjata yang digunakan para penjahat yang telah ia taklukkan.

Betapa terkejutnya Jodi, melihat istri dan anaknya dianianya. Namun ia berusaha untuk tenang dalam bertindak, ia mulai menyerang para perampok itu secara bertahap hingga akhirnya hanya tinggal empat pemimpinnya.

“Ayo cepat, katakan dimana suamimu! sebelum sangkur ini menembus perut anakmu” perampok itu mulai kehilangan kesabarannya,.
Melihat situasi yang sedemikian gentingnya, tanpa berpikir panjang Jodi langsung memuntahkan pelurunya kearah keempat perampok itu.
“Dor………dor…….dor…” tedegar suara tembakan.
“Aaaaaaaaa…….aaaaaaaaa……..” seorang perampok menjerit kesakitan dan robih seketika.
“Anto…bawa ibumu dan selamatkan dia!” teriak Jodi pada Anto.
Tanpa menunggu perintah berikutnya Anto dan Ibunya lari dari tempat pertempuran.
Desingan peluru semakin keras terdengar ketika Jhoni datang dengan memdawa sebuah mitraliur, entah dari mana ia mendapatkannya.
Hampir satu jam baku tembak terjadi, akhirnya sebuah dinamit meledakkan tempat itu.
“Boooooomm….” Suara dentuman dinamit sangat keras.

“Aaaa….” Suara lelaki separuh baya tersentak dari lamunnanya.
Ingatan itulah yang selalu membayanginya.


Itu hanya cerita jangn takut. namun takut kah engkau jika berbuat dosa ??? Memang begitulahkisah hidup perputaran kehidupan di dunia.